News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Perajin Perkecil Ukuran Tempe Tahu Agar tak Merugi

Penulis: Wahyu Aji
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Slamet (47) membersihkan kacang kedelai yang sudah direbus, saat akan memulai produksi tempe kembali, setelah tiga hari mogok produksi di pabrik tempe Arema, Jalan Jakarta, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (11/9/2013).

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Aksi mogok produksi yang dilakukan produsen tempe dan tahu lantaran harga kedelai belum juga turun, berakhir pada Rabu (11/9/2013) kemarin.

Para perajin pun harus memutar otak agar tak terus merugi. Selain menaikkan harga, mereka juga memerkecil ukuran tempe dan tahu.

Dedi (33), perajin tahu di RT 05/02, Condet, Kramat Jati, Jakarta Timur, mengaku memerkecil ukuran dan menaikkan harga tahu, untuk menutup biaya produksi.

Dedi yang sebelumnya menjual tahu seharga Rp 2.000 per bungkus, kini terpaksa menetapkan harga Rp 2.500 per bungkus.

Dengan kebutuhan kedelai 60 kilogram per hari, keuntungan yang ia peroleh tidak lebih dari Rp 200 ribu.

Para produsen mengaku kecewa dengan sikap pemerintah yang tak juga dapat menstabilkan harga kedelai. Padahal, dengan kedelai yang masih tersedia, pemerintah seharusnya bisa menekan harga.

"Percuma impor-impor terus kalau harganya masih tinggi," kata Nurdin (59), seorang penyuplai kedelai kepada para perajin di daerah Condet, Kamis (12/9/2013).

Nurdin butuh dua ton kedelai per enam hari, untuk disuplai kepada 10 perajin tahu. Agar para perajin dapat tetap bertahan, dirinya terpaksa menahan harga agar tidak terlalu tinggi.

"Waktu harga kedelai masih Rp 75 ribu per kilogram. Setelah diolah, bahan tahu saya jual Rp 12 ribu per kilogram. Lalu, harga kedelai naik menjadi Rp 8.500, dan 13.000 per kilogram. Sekarang, harga kedelai rata-rata Rp 9.500, saya tetap jual Rp 13.000," ungkapnya. (*)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda

Berita Populer

Berita Terkini