“Ya, pokoknya learning by doing lah,” katanya sambil tertawa. Cacing hasil ternaknya dan cacing pasokan masyarakat dia pasarkan ke peternak ikan dan udang di kawasan Banyuwangi hingga Tuban (Jawa Timur).
Ternyata, pilihan Adam tak salah. Usaha budi daya cacingnya berkembang baik. Tahun 2014, dia mendirikan CV Rumah Alam Jaya Organik.
Dalam perjalanannya, Adam sadar bahwa membudidayakan cacing sebenarnya bukan sekedar mendapat penghasilan tetapi juga baik bagi lingkungan.
Makanan dasar cacing adalah semua jenis limbah nonkimia sehingga keberadaan cacing sangat dibutuhkan bagi keseimbangan alam.
Yang mengherankan, meski makanan cacing adalah limbah atau kotoran, tetapi dagingnya justru higienis. Bahkan kotoran cacing sangat bagus dijadikan pupuk organik.
Adam kemudian bertemu Prof. Karsono dari Madiun, seorang peneliti serta anggota Komite Dewan Pupuk Nasional.
Dari sang profesor, Adam tahu bahwa jika cacing diolah menjadi bentuk cair atau jus, ia tak hanya bisa digunakan sebagai makanan ikan, tetapi bisa dijadikan berbagai bahan kebutuhan industri mulai industri farmasi, pupuk tanaman organik sampai bahan alat kecantikan.
“Sejak itu saya mengurangi pasokan cacing untuk budidaya ikan. Dengan sedikit diolah menjadi jus atau difermentasikan dalam waktu tertentu, harga jualnya makin mahal,” kata Adam.
Cairan fermentasi cacing dijadikan bahan untuk pupuk tanaman dan perikanan organik.
Yang juga jadi soal adalah masalah pendanaan. Setiap hari Adam harus menyiapkan dana segar untuk membeli cacing dari mitra kerja, berapa pun jumlahnya.
“Saya beli cacing dari masyarakat Rp 25 ribu per kilogram. Beruntung, saya mendapat bantuan pinjaman modal dari Bank BRI sehingga soal pendanaan tidak ada masalah lagi,” tambah Adam yang dibantu sang istri, Heni, untuk mengelola usahanya
Reporter : Sukma Ratih
Baca tanpa iklan