TRIBUNNEWS.COM, TANGERANG — Produk rempah asal Indonesia kembali menarik perhatian pelaku usaha internasional dalam ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2025 yang digelar di ICE BSD, Tangerang.
Sejumlah perusahaan dari kawasan Timur Tengah dan Afrika menunjukkan ketertarikan terhadap berbagai komoditas rempah seperti lada hitam, lada putih, kunyit, dan kayu manis.
Minat tersebut terlihat sejak hari pertama pameran, di mana beberapa perusahaan dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, India, Libya, dan Somalia mulai menjajaki kerja sama dagang, termasuk permintaan pengiriman sampel sebagai tahap awal ekspor.
PT Natura Perisa Aroma (NPA) melalui lini bisnis Nekaboga yang menjadi salah satu peserta pameran menyebut bahwa kualitas dan keamanan produk menjadi faktor utama ketertarikan buyer.
“Baru satu hari kami berpartisipasi di Trade Expo Indonesia, respons pasar sudah sangat positif. Banyak buyer dari berbagai negara yang tertarik dan melakukan penjajakan serius untuk kerja sama ekspor, terutama untuk komoditas unggulan seperti blackpepper (lada hitam), white pepper (lada putih), turmeric (kunyit) dan cassia (kayu manis),” ujar Laksmi Istikasari, Sales & Marketing Manager Nekaboga, di Tangerang, Banten, Jumat (17/10/2025).
Baca juga: Dorong Ekspor Rempah, GPEI Usulkan Garuda Indonesia Jadi Pengangkut Bumbu Nasional ke Eropa
Menurut Laksmi, beberapa di antaranya bahkan telah mengajukan permintaan untuk pengiriman sample rempah ke negaranya masing-masing sebagai tahap awal proses ekspor.
Selama TEI 2025 berlangsung, berbagai jenis rempah khas Indonesia dipamerkan, mulai dari pala, fuli, kemukus, temulawak, hingga asam jawa.
Seluruh bahan baku diperoleh langsung dari petani, yang juga mendapatkan pelatihan untuk memenuhi standar ekspor.
Dengan kualitas yang diakui secara global dan komitmen terhadap keberlanjutan, ia optimistis dapat memperluas kontribusinya di pasar dunia.
Saat ini, sejumlah produk rempah telah diekspor ke berbagai negara seperti Australia, Jepang, Singapura, Malaysia, Taiwan, India, Amerika Serikat, serta sejumlah negara Eropa seperti Belanda, Swedia, dan Jerman.
Pameran ini juga menyoroti pentingnya rantai pasok yang berkelanjutan.
Beberapa pelaku industri rempah di Indonesia menjalankan model bisnis terintegrasi dari hulu ke hilir, termasuk kemitraan dengan petani lokal dan pengawasan mutu melalui laboratorium internal.
Produsen tidak hanya membeli hasil panen, tetapi juga melakukan pemberdayaan dan pelatihan berkelanjutan kepada petani agar mampu meningkatkan kualitas dan produktivitas hasil pertanian mereka, serta dapat memenuhi kriteria dan sertifikasi produk yang ditetapkan.
Selain meningkatkan daya saing produk, pendekatan ini turut mendorong kesejahteraan petani di daerah penghasil.
“Rempah bukan hanya warisan budaya, tapi juga masa depan ekonomi Indonesia. Kami ingin membawa cita rasa rempah Nusantara ke lebih banyak negara dan membuktikan bahwa produk lokal mampu bersaing di panggung global,” tutup Laksmi.
Baca tanpa iklan