Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Perusahaan hiburan raksasa The Walt Disney Company mengubah sikapnya terhadap kecerdasan buatan (AI).
Dari semula skeptis, Disney kini justru menjadi investor besar OpenAI, pengembang ChatGPT.
Perubahan haluan ini terjadi di tengah ketegangan panjang antara industri hiburan Hollywood dan perusahaan teknologi terkait penggunaan konten berhak cipta untuk melatih model AI.
Menurut laporan The Wall Street Journal edisi Jepang, 20 Desember 2025, titik balik hubungan kedua pihak mulai terlihat sejak awal November.
Saat itu, tim strategi OpenAI menggelar pertemuan tertutup di Marina del Rey, dekat Los Angeles. Hadir sebagai pembicara tamu Chief Legal Officer Disney, Horacio Gutierrez—sebuah sinyal mencairnya relasi dua kubu yang sebelumnya kerap berseberangan.
Selama beberapa tahun terakhir, Disney dan OpenAI berselisih pandangan mengenai legalitas penggunaan konten berhak cipta sebagai data pelatihan AI.
Baca juga: 17 Perusahaan Penerbit Manga di Jepang Layangkan Surat Peringatan ke Open AI terkait Aplikasi Sora
Namun di balik layar, kedua perusahaan ternyata telah melakukan negosiasi intensif sejak musim panas 2025. Pembicaraan tersebut berujung pada kesepakatan strategis yang berfokus pada teknologi video generatif terbaru OpenAI, Sora 2.
Puncaknya terjadi pada 11 Desember 2025, ketika Disney mengumumkan investasi senilai 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp15 triliun ke OpenAI, sekaligus mengakuisisi saham perusahaan tersebut.
Melalui kesepakatan ini, OpenAI memperoleh lisensi untuk menggunakan lebih dari 200 karakter Disney. Artinya, pengguna Sora dapat membuat video berbasis AI dengan tokoh ikonik seperti Lilo & Stitch hingga karakter dari waralaba Star Wars.
Langkah Disney ini kontras dengan sikap kerasnya terhadap perusahaan teknologi lain.
Sehari sebelum pengumuman investasi OpenAI, Disney mengirim surat cease and desist kepada Google.
Disney menuduh raksasa teknologi tersebut melakukan pelanggaran hak cipta dalam skala besar melalui produk AI-nya, serta menilai Google tidak menyediakan mekanisme pembatasan output konten berhak cipta seketat OpenAI.
Pendekatan “wortel dan cambuk” ini mencerminkan strategi baru Disney dalam menghadapi gelombang AI generatif: menggugat pihak yang dianggap melanggar, sekaligus bersekutu dengan perusahaan teknologi yang dinilai lebih kooperatif dan siap berkompromi.
Kesepakatan dengan OpenAI juga menjadi taruhan strategis bagi CEO Disney Bob Iger, yang masa jabatannya berakhir pada 2026.
Baca tanpa iklan