News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Serap 3,1 Juta Ton Gabah Sepanjang 2025, Bos Bulog: Jadi Rekor Tertinggi 

Penulis: Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor: Seno Tri Sulistiyono
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

BULOG SERAP BERAS - Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani di kantor Perum Bulog, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jumat (2/1/2026). Perum Bulog mencatat pengadaan setara beras yang dilakukan Perum Bulog pada tahun ini mencapai 3.191.969 ton.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perum Bulog mencatat pengadaan setara beras yang dilakukan Perum Bulog pada 2025 mencapai 3.191.969 ton.

Detailnya, pengadaan Gabah Kering Panen (GKP) sepanjang 2025 mencapai 4.537.490 ton.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, penyerapan GKP pada 2025 merupakan rekor tertinggi dalam sejarah BUMN pangan tersebut berdiri.

"Jadi ini top performanya Bulog selama berdirinya Bulog adalah pengadaan gabah kering panen di 4.537.490 ton," kata Rizal di kantor Perum Bulog, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jumat (2/1/2026).

Baca juga: Pemerintah Akan Evaluasi Skema Tugas Bulog, Margin Belum Ideal untuk Jaga Harga Pangan Nasional

Kemudian, Bulog mencatat pengadaan Gabah Kering Giling (GKG) sebesar 6.863 ton selama 2025 dan pengadaan beras sebesar 765.504 ton beras.

Secara total, pengadaan pada 2025 setara beras adalah sebesar 3.191.969 ton.

Bulog juga mencatat pengadaan jagung dalam negeri sebesar 101.968 ton. 

Jumlah tersebut terdiri dari 101.770 ton melalui skema public service obligation (PSO) dan 198 ton melalui skema komersial.

Dari sisi penyaluran, Bulog menyalurkan bantuan pangan beras sebanyak 707.929 ton sepanjang 2025.

Sementara itu, penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) mencapai sekitar 795 ribu ton dan SPHP jagung sebesar 51.211 ton.

Rizal menjelaskan, pola penyaluran beras SPHP pada 2025 berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Dulu penyaluran SPHP itu langsung diserahkan ke pedagang grosiran, sehingga capaiannya terlihat lebih besar.

Namun, ternyata itu berdampak pada beras SPHP yang dioplos dengan beras lain.

Jadi, penyaluran beras SPHP pada 2025 langsung disalurkan ke para pedagang pengecer, sehingga jalur distribusi turut terpotong.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini