TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyampaikan catatan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sedang dalam posisi menguat.
Peneliti Senior Departemen Ekonomi CSIS Deni Friawan menilai penguatan IHSG bukan disebabkan oleh kinerja perusahaan-perusahaan dengan fundamental kuat.
"Itu kan yang menguat kebanyakan bukan perusahaan-perusahaan yang fundamentalnya bagus, misalnya bukan Bank BCA, BRI, Bank Mandiri, atau Indofood, atau ICBP, dan segala macam," katanya di kantor CSIS, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Rabu ini.
Menurut Deni, penguatan IHSG justru ditopang oleh saham-saham perusahaan baru yang memiliki rasio Price Earning Ratio (PER) sangat tinggi, bahkan mencapai 500 kali.
"Itu kan artinya butuh 500 tahun untuk kembali investasi kita, kalau mengartikannya kayak gitu," ujar Deni. Pada akhir perdagangan sesi I Rabu (7/1/2026), IHSG menguat 12,64 poin atau 0,14 persen ke level 8.946,25.
Ia menilai kondisi tersebut menyerupai gelembung (bubble) karena tidak ditopang oleh fundamental perusahaan yang kuat. Deni mengingatkan potensi risiko jika gelembung tersebut pecah akan menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan.
"Menurut saya ini lebih ke arah bubble yang tidak ditopang oleh fundamental karena secara fundamental atau rasionya itu enggak seperti itu. Jadi yang dikhawatirkan adalah ini boom and bust," ucap Deni.
Baca juga: Konflik AS-Venezuela Tak Guncang Pasar Modal RI, IHSG Cetak Rekor Baru
Deni juga menyinggung pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut kinerja IHSG akan meningkat pada tahun ini.
Menurut dia, pernyataan tersebut kontradiktif dengan perkataan Purbaya sendiri yang meminta Bursa Efek Indonesia (BEI) menertibkan saham-saham gorengan.
Saham gorengan sendiri merupakan istilah untuk saham yang harganya naik tidak wajar tanpa didukung kinerja fundamental, biasanya digerakkan oleh pihak tertentu untuk menciptakan permintaan semu.
Saham gorengan diibaratkan seperti makanan gorengan. Gorengan terlihat menarik dan menggoda, tetapi berisiko tinggi bagi kesehatan, dalam konteks bagi portofolio investor.
Baca juga: Laju IHSG Tahun Ini Diprediksi Meroket di Atas 9.000, Berikut Pilihan Sektornya
"Ini yang menurut saya yang harus dikhawatirkan. Jangan sampai praktik-praktik seperti ini itu menciptakan hal yang semu," kata Deni.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan melanjutkan tren penguatan di 2026 seiring makin solidnya fundamental ekonomi dan kebijakan yang semakin sinkron antara pemerintah dan otoritas terkait.
Purbaya mengungkapkan, capaian IHSG saat ini seharusnya bisa lebih tinggi apabila desain kebijakan yang diterapkan sepenuhnya sesuai dengan rancangan awal.
Baca tanpa iklan