News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Harga Saham

IHSG Kembali Merosot Usai Dibuka Menguat, Mulai Tinggalkan Level 6.300

Editor: Seno Tri Sulistiyono
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

IHSG MELEMAH - Karyawan mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta. IHSG dibuka menguat ke level 6.366,49 dari posisi penutupan perdagangan kemarin 6.318,50.

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (21/5/2026) pagi bergerak di zona hijau.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka menguat ke level 6.366,49 dari posisi penutupan perdagangan kemarin 6.318,50.

Sejak dibuka pukul 09.00 WIB hingga 09.04 WIB, IHSG masih menguat 0,27 persen ke posisi 6.335,30.

Baca juga: Sore Ini IHSG Ditutup Melemah 52,1 Poin, Rupiah Menguat ke Rp17.653

Pada rentang waktu tersebut, IHSG bergerak pada rentang 6.333 hingga 6.378, dengan nilai transaksi Rp1,07 triliun yang melibatkan 1,7 miliar lembar saham.

Namun, seiring berjalannya perdagangan, sekitar pukul 09.10, IHSG merosot 0,34 persen atau 21,22 poin ke level 6.297,28.

Sebelumnya, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta menyampaikan, berdasarkan analisa teknikal, IHSG berupaya rebound atau menguat karena faktor oversold atau jenuh jual dari pelaku pasar.

Menurutnya, para pelaku pasar mulai mendapatkan kepastian ketika Presiden Prabowo Subianto memaparkan pidato dalam sidang paripurna DPR kemarin, terkait target pertumbuhan ekonomi yang realistis.

Misalnya pada kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen untuk tahun fiskal mendatang.

"Bersamaan dengan kepastian asumsi makro seperti target yield SBN (surat berharga negara), sehingga hal ini memberikan kepastian bagi market demi meredam risiko volatilitas," papar Nafan.

Selain itu, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah pengetatan moneter yang lebih agresif dari ekspektasi konsensus dengan menaikkan BI Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen. 

Padahal, konsensus sebelumnya memperkirakan kenaikan terbatas ke level 5,00%. Langkah ini diambil untuk meredam tekanan pelemahan nilai tukar rupiah yang belakangan ini cukup intensif. 

"Hal ini tentunya menjadi sentimen positif bagi Rupiah yang terpantau menguat 0,29% di level Rp17.653,5 per dolar AS," ujar Nafan.

Dari global, dinamika tensi geopolitik AS-Iran masih menjadi sentimen utama bagi pasar saham, dimana Presiden AS Donald Trump menyebutkan bahwa AS berada dalam "tahap akhir" pembicaraan damai dengan Iran.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini