Ringkasan Berita:
- Kadin menilai kondisi fundamental perekonomian Indonesiamasih solid.
- Meski fundamental tidak tertekan, dinamika di pasar bebas tetap perlu dicermati karena naik dan turunnya berdasarkan kepercayaan.
- Rupiah diprediksi menyentuh Rp 17 ribu per dolar AS pada beberapa pekan ke depan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie menyakini pelemahan rupiah yang terjadi saat ini hanya bersifat sementara.
Menurut Anindya, keyakinan tersebut didasari oleh kondisi fundamental perekonomian Indonesia yang dinilai masih solid.
Anindya menyebut neraca perdagangan Indonesia sudah surplus selama lima tahun berturut-turut.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan pada November 2025 sebesar 2,66 miliar dolar AS, yang berarti surplus selama 67 bulan beruntun.
Baca juga: Pelemahan Rupiah Hari Ini Lebih Parah dari Posisi Krisis Moneter 1998, Bersiap Tembus Level Rp17.000
Selain itu, ia menyoroti aliran investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) yang masih masuk ke Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi asing yang masuk ke Indonesia pada kuartal III-2025 tercatat sebesar Rp 212 triliun.
Angka tersebut lebih tinggi dibanding kuartal II 2025 yang sebesar Rp 202,2 triliun, tetapi masih lebih rendah dari periode yang sama pada 2024 sebesar Rp 232,7 triliun.
"Jadi artinya dolar atau mata uang asing bisa masuk ke Indonesia," kata Anindya di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026).
Selain neraca perdagangan dan investasi, Anindya juga menilai pertumbuhan ekonomi dan inflasi masih dalam kondisi baik
Ia menyebut pertumbuhan ekonomi tercatat di atas 5 persen, sedangkan inflasi berada di kisaran 2,5 persen.
Data BPS mencatat inflasi hingga akhir 2025 mencapai 2,92 persen secara tahunan (year on year).
Rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga disebut berada di kisaran 40 persen.
"Nah, dengan seperti ini saya melihat bahwa shock yang ada itu mungkin hanya sementara," ujar Anindya.
Menurut dia, meski fundamental tidak tertekan, dinamika di pasar bebas tetap perlu dicermati karena naik dan turunnya berdasarkan kepercayaan.
Oleh karena itu, ia menilai pelaku usaha tetap harus waspada.
"Jadi saya rasa sih tetap kita harus waspada, tidak ada yang boleh dianggap enteng, tapi kita merasa cukup yakin lah dalam jangka panjang rupiah akan stabil," ucap Anindya.
Pada perdagangan Rabu sore ini, rupiah ditutup menguat 12 point ke level Rp 16.865 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.877.
Diprediksi Capai Rp 17 Ribu
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan menembus Rp 17 ribu per dolar Amerika Serikat (AS) pada Januari ini.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas itu mengungkap rupiah akan menyentuh Rp 17 ribu per dolar AS pada beberapa pekan ke depan.
"Saya kira di bulan Januari ini Rp 17 ribu akan kena. Saya optimis Rp 17 ribu mungkin di minggu-minggu besok," kata Ibrahim kepada Tribunnews, Rabu (14/1/2026).
Pelemahan rupiah ini dipicu sentimen dari luar dan dalam negeri.
Dari luar negeri, rupiah tertekan oleh masifnya perang dagang global. Selain itu, tensi politik di Amerika Serikat juga turut memengaruhi pasar.
Saat ini, Ketua Federal Reserve (The Fed) atau Bank Sentral AS Jerome Powell sedang menjalani penyelidikan pidana oleh jaksa federal terkait proyek renovasi kantor pusat The Fed senilai 2,5 miliar dolar AS.
Kasus tersebut membuat dolar AS menguat di pasar global, sehingga memberikan tekanan pada rupiah.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pelemahan rupiah dipengaruhi ketidaksinkronan kebijakan antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia (BI).
Menurut dia, Bank Indonesia seharusnya lebih banyak melakukan intervensi.
"Tapi kenyataannya cadangan devisa kita bulan kemarin kan naik tajam. Artinya, Bank Indonesia saat ini sebenarnya itu intervensinya itu ya setengah-setengah," ujar Ibrahim.
Ibrahim juga menyinggung arah kebijakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menginginkan indeks harga saham gabungan (IHSG) terus naik hingga 10.000.
Ia menyebut kondisi ini bisa berdampak langsung pada rupiah.
"Di mana-mana pada saat saham-saham naik, ya pasti dampaknya terhadap pelemahan mata uang rupiah," ucap Ibrahim.
"Jadi kalau IHSG itu sampai di 10 ribu ya bisa saja rupiahnya ke Rp 18 ribu," sambungnya.
Selain itu, Ibrahim mengkritik keputusan Purbaya memindahkan dana kas negara sebesar Rp 276 triliun ke bank-bank Himbara, sebelum kemudian menarik kembali Rp 76 triliun.
"Rupanya sampai saat ini ini cuma strategi politik ya cuma mengendapkan dana di Bank Himbara, kemudian dibalikin lagi. Itu kan strategi politik dan pasar itu melihat seperti itu," ujar Ibrahim.
Dia bilang, ketika dana tersebut diturunkan dari BI ke Bank Himbara, hanya saham Bank Mandiri yang naik, sedangkan saham lainnya terpukul.
"Itu artinya pelaku pasar tahu apa yang dilakukan, skenario politik yang dilakukan oleh Purbaya ini. Ya sudah bisa ditebak oleh pasar, sehingga pasar apatis. Wajar kalau rupiah melemah," ucap Ibrahim.
Baca tanpa iklan