News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Nilai Tukar Rupiah

Rupiah Makin Tersungkur, Sore Ini Jadi Terlemah Sepanjang Masa Mendekati Rp17.000

Editor: Seno Tri Sulistiyono
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

NILAI TUKAR RUPIAH - Petugas menunjukan uang pecahan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta Pusat. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 31 poin atau 0,18% di level Rp 16.896 per dolar AS dari hari sebelumnya Rp16.865.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Kamis (15/1/2025) sore makin terperosok mendekati level Rp17.000 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 31 poin atau 0,18% di level Rp 16.896 per dolar AS dari hari sebelumnya Rp16.865.

Posisi rupiah tersebut menjadi terendah sejak tahun 1990. 

Sementara itu, kurs rupiah berdasarkan data Bank Indonesia pada hari ini melemah ke level Rp16.880, di mana hari sebelumnya Rp16.871.

Baca juga: Bos Kadin Minta Pengusaha Waspada Hadapi Pelemahan Rupiah: Jangan Anggap Enteng

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi menyampaikan, meski ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mulai mereda, namun konflik tersebut turut mempengaruhi perdagangan mata uang.

Menurutnya, Presiden AS Donald Trump telah menyampaikan otoritas Iran akan berhenti membunuh para demonstran dan tidak ada rencana untuk eksekusi skala besar.

"Hal ini meredakan kekhawatiran bahwa Washington sedang mempersiapkan respons militer segera terhadap demonstrasi menentang pemerintah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei," papar Ibrahim.

Selain itu, Ibrahim menyebut laporan Indeks Harga Produsen (PPI) di AS untuk Oktober menunjukkan harga produsen jauh dari target 2% The Fed.

"Para pedagang tetap yakin bahwa bank sentral akan memangkas suku bunga pada tahun 2026," paparnya.

Sedangkan faktor internal, Ibrahim menyampaikan, kelas menengah di Indonesia mengalami kondisi tertekan dan bergerak menuju ke kelompok rentan.

Padahal, konsumsi rumah tangga hingga kini masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional, dengan didominasi oleh kelas menengah.

"Perlunya stimulus yang lebih banyak diberikan kepada kelas menengah untuk menjaga kondisi daya belinya. Sebab, kelas menengah merupakan kelompok yang terhimpit di tengah kondisi gejolak perekonomian, padahal merupakan pondasi pertumbuhan ekonomi," tuturnya.

Stimulus ekonomi pemerintah diketahui kerapkali lebih banyak digelontorkan untuk rumah tangga berpenghasilan rendah atau kelompok miskin. 

Diantaranya seperti bantuan sosial (bansos), program keluarga harapan (PKH), dan bantuan langsung tunai (BLT). 

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini