News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Nilai Tukar Rupiah

Imbas Konflik Timur Tengah, Rupiah Loyo ke Level Rp 16.868 per Dolar AS Pada Senin Sore

Penulis: Rizki Sandi Saputra
Editor: Sanusi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau loyo pada perdagangan Senin (2/3/2026). Rupiah ditutup melemah 81 poin ke level Rp 16.868 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah bahkan sempat merosot tajam hingga 90 poin.

 

Ringkasan Berita:

  • Rupiah ditutup melemah 81 poin ke level Rp 16.868 per dolar AS 
  • Rupiah bahkan sempat merosot tajam hingga 90 poin

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau loyo pada perdagangan Senin (2/3/2026).

Berdasarkan data perdagangan sore ini, Rupiah ditutup melemah 81 poin ke level Rp 16.868 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah bahkan sempat merosot tajam hingga 90 poin.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi membeberkan faktor penentu meroketnya mata uang dolar AS tersebut.

Baca juga: BI Janji Jaga Rupiah Saat Dana Asing Kabur Akibat Perang Israel-AS Vs Iran: Kami Hadir di Pasar

Kata dia, ketegangan yang pecah di Timur Tengah menjadi pemicu utama mata uang Republik Indonesia tersebut babak belur.

"Penyebab utama menguatnya indeks dolar AS adalah eskalasi konflik yang belum pernah terjadi sebelumnya di Timur Tengah. Dunia internasional kini tengah was-was setelah terjadi serangan udara besar-besaran," kata Ibrahim dalam keterangan resminya, Senin (2/3/2026).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas tersebut juga menyatakan, respons dari Iran yang menutup Selat Hormuz juga menjadi penentu besar lainnya.

Kondisi ini mengancam jalur energi global karena jalur tersebut sangat krusial bagi pasokan minyak dunia.

"Situasi kian diperparah dengan buntunya perundingan nuklir antara AS dan Iran di Jenewa. Presiden AS Donald Trump pun memberikan pernyataan keras," ucap dia.

Sementara dari faktor internal atau dalam negeri, Ibrahim menyatakan, sejatinya perekonomian Indonesia masih membawa kabar positif.

Pasalnya, Purchasing Manager Index (PMI) Manufaktur Indonesia tercatat melesat ke level 53,8 pada Februari 2026. Angka ini naik signifikan dibanding bulan sebelumnya yang berada di posisi 52,6.

Laporan S&P Global menyebutkan, ekspansi manufaktur Indonesia saat ini adalah yang terkuat sejak Maret 2024.

"Permintaan baru naik selama 7 bulan berturut-turut. Ini didorong oleh kepercayaan diri pelanggan yang membaik dan pesanan ekspor yang melonjak tajam, tertinggi sejak Mei 2022," ucap dia.

Sektor industri tanah air pun mulai gencar menambah karyawan untuk mengejar target produksi. 

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini