News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Nilai Tukar Rupiah

Bos Kadin Minta Pengusaha Waspada Hadapi Pelemahan Rupiah: Jangan Anggap Enteng

Penulis: Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor: Seno Tri Sulistiyono
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PELEMAHAN RUPIAH SEMENTARA - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026). Ia menyakini pelemahan rupiah yang terjadi saat ini hanya bersifat sementara.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie menyakini pelemahan rupiah yang terjadi saat ini hanya bersifat sementara.

Menurut Anindya, keyakinan tersebut didasari oleh kondisi fundamental perekonomian Indonesia yang dinilai masih solid.

Anindya menyebut neraca perdagangan Indonesia sudah surplus selama lima tahun berturut-turut.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan pada November 2025 sebesar 2,66 miliar dolar AS, yang berarti surplus selama 67 bulan beruntun.

Baca juga: Pelemahan Rupiah Hari Ini Lebih Parah dari Posisi Krisis Moneter 1998, Bersiap Tembus Level Rp17.000

Selain itu, ia menyoroti aliran investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) yang masih masuk ke Indonesia.

Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi asing yang masuk ke Indonesia pada kuartal III-2025 tercatat sebesar Rp 212 triliun.

Angka tersebut lebih tinggi dibanding kuartal II 2025 yang sebesar Rp 202,2 triliun, tetapi masih lebih rendah dari periode yang sama pada 2024 sebesar Rp 232,7 triliun.

"Jadi artinya dolar atau mata uang asing bisa masuk ke Indonesia," kata Anindya di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026).

Selain neraca perdagangan dan investasi, Anindya juga menilai pertumbuhan ekonomi dan inflasi masih dalam kondisi baik

Ia menyebut pertumbuhan ekonomi tercatat di atas 5 persen, sedangkan inflasi berada di kisaran 2,5 persen.

Data BPS mencatat inflasi hingga akhir 2025 mencapai 2,92 persen secara tahunan (year on year).

Rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga disebut berada di kisaran 40 persen.

"Nah, dengan seperti ini saya melihat bahwa shock yang ada itu mungkin hanya sementara," ujar Anindya.

Menurut dia, meski fundamental tidak tertekan, dinamika di pasar bebas tetap perlu dicermati karena naik dan turunnya berdasarkan kepercayaan.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini