Oleh karena itu, ia menilai pelaku usaha tetap harus waspada.
"Jadi saya rasa sih tetap kita harus waspada, tidak ada yang boleh dianggap enteng, tapi kita merasa cukup yakin lah dalam jangka panjang rupiah akan stabil," ucap Anindya.
Pada perdagangan Rabu sore ini, rupiah ditutup menguat 12 point ke level Rp 16.865 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.877.
Diprediksi Capai Rp 17 Ribu
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan menembus Rp 17 ribu per dolar Amerika Serikat (AS) pada Januari ini.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas itu mengungkap rupiah akan menyentuh Rp 17 ribu per dolar AS pada beberapa pekan ke depan.
"Saya kira di bulan Januari ini Rp 17 ribu akan kena. Saya optimis Rp 17 ribu mungkin di minggu-minggu besok," kata Ibrahim kepada Tribunnews, Rabu (14/1/2026).
Pelemahan rupiah ini dipicu sentimen dari luar dan dalam negeri.
Dari luar negeri, rupiah tertekan oleh masifnya perang dagang global. Selain itu, tensi politik di Amerika Serikat juga turut memengaruhi pasar.
Saat ini, Ketua Federal Reserve (The Fed) atau Bank Sentral AS Jerome Powell sedang menjalani penyelidikan pidana oleh jaksa federal terkait proyek renovasi kantor pusat The Fed senilai 2,5 miliar dolar AS.
Kasus tersebut membuat dolar AS menguat di pasar global, sehingga memberikan tekanan pada rupiah.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pelemahan rupiah dipengaruhi ketidaksinkronan kebijakan antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia (BI).
Menurut dia, Bank Indonesia seharusnya lebih banyak melakukan intervensi.
"Tapi kenyataannya cadangan devisa kita bulan kemarin kan naik tajam. Artinya, Bank Indonesia saat ini sebenarnya itu intervensinya itu ya setengah-setengah," ujar Ibrahim.
Ibrahim juga menyinggung arah kebijakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menginginkan indeks harga saham gabungan (IHSG) terus naik hingga 10.000.
Baca tanpa iklan