Andai saja mampu menggaet 30 persen dari kerugian akibat under invoicing ekspor, pemerintah dinilai mampu menutup defisit anggaran negara.
Baca juga: Usai Bank Indonesia Sampaikan Bakal Intervensi, Rupiah Pagi Ini Bergerak Menguat
Under invoicing ekspor turut menjadi penyebab shortfall penerimaan negara.
"Hal ini diyakini terjadi shortfall penerimaan negara pada tahun lalu yang didorong salah satunya oleh under invoicing ekspor," ujar Ibrahim.
Ibrahim bilang, isu under invoicing ekspor sebenarnya sudah lama terjadi, tetapi baru ramai akhir-akhir ini.
Isu tersebut baru ramai setelah terjadi defisit anggaran dalam APBN yang mendekati 3 persen pada 2025, sehingga membuat rupiah terus terkontraksi.
Masalah under invoicing menjadi fokus Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa karena pemberantasan praktik ini disebut dapat menjadi tambahan penerimaan bagi Bea Cukai.
Ibrahim pun memprediksi pada perdagangan besok rupiah akan fluktuatif, tetapi ditutup menguat direntang Rp 16.860 - Rp.16.900 per dolar AS.
Baca tanpa iklan