News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Gejolak Rupiah

Rupiah Menguat Sore Ini ke Level Rp 16.722 per Dolar AS karena Donald Trump

Penulis: Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor: Seno Tri Sulistiyono
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

NILAI TUKAR RUPIAH - Petugas menunjukan uang pecahan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pada perdagangan Rabu (28/1/2026) sore ini, rupiah ditutup menguat 46 poin ke Rp 16.722 per dolar Amerika Serikat (AS).

Direktur PT Traze Andalan Futures yang merupakan pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuabi, mengungkap indeks dolar AS juga ikut menguat.

Ada faktor dari luar dan dalam negeri terkait dengan kenaikan ini. Faktor utamanya tetap ketegangan perdagangan dunia yang kembali melibatkan Presiden AS Donald Trump.

Baca juga: Rupiah Menguat di Level Rp 16.768 per Dolar AS Selasa Sore, Ini Faktor Pendorongnya

"Retorika perdagangan agresif Trump dan penggunaan tarif berulang sebagai senjata ekonomi membebani Dolar AS," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis pada Rabu ini.

Eskalasi perang dagang, yang sekarang terjadi antara AS dan Korea Selatan, meluas ke pasar keuangan. 

Ancaman Donald Trump untuk memberlakukan tarif 25 persen pada barang-barang dari Seoul mendorong nilai tukar Dolar AS melemah.

Di saat yang sama, kekhawatiran akan penutupan pemerintahan AS lainnya semakin meningkat, dengan para anggota parlemen menghadapi tenggat waktu pendanaan pada 30 Januari.

"Dengan latar belakang ini, logam mulia terus menarik aliran safe heaven," ujar Ibrahim.

Faktor berikutnya adalah Donald Trump yang hampir menunjuk Ketua Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) yang baru setelah Jerome Powell.

Donald Trump juga menyebut suku bunga akan turun dengan kepemimpinan baru di bank sentral.

"Perselisihan Trump dengan Fed juga memberikan dukungan kepada emas, terutama karena investor khawatir tentang independensi bank sentral di tengah tekanan politik yang terus berlanjut," ucap Ibrahim.

Kemudian, faktor lainnya dari sisi geopolitik adalah ketegangan AS-Iran muncul kembali.

Ketegangan muncul kembali setelah adanya laporan yang menyebutkan kapal induk Angkatan Laut AS USS Abraham Lincoln dan kapal perang yang menyertainya telah tiba di Timur Tengah.

Kehadiran kedua kapal tersebut memicu kekhawatiran tentang kemungkinan peningkatan ketegangan dengan Iran.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini