“Ketika pasar goyah, yang pertama terdampak bukan elite, tapi pekerja. PHK, harga naik, akses kredit menyempit—di situlah krisis sosial mulai tumbuh,” ujar Sujahri.
Ia menegaskan bahwa jika kepercayaan terhadap institusi ekonomi negara terus tergerus, Indonesia berisiko menghadapi spiral krisis dari pasar keuangan, ke sektor riil, hingga ketegangan sosial.
“Jangan anggap ini sekadar urusan grafik saham. Ini soal dapur rakyat. Kalau ekonomi runtuh, stabilitas sosial ikut runtuh,” katanya.
GMNI, lanjut Sujahri, menilai penempatan figur berlatar belakang politik dalam jabatan strategis Bank Indonesia berisiko merusak kredibilitas kebijakan moneter dan menjadi pemicu krisis ekonomi yang lebih luas.
Sujahri mengatakan pihaknya mendesak pemerintah dan BI memberikan jaminan terbuka bahwa kebijakan moneter ke depan bebas dari intervensi politik.
“Pasar butuh kejelasan, rakyat butuh kepastian. Tanpa itu, ketidakpastian akan berubah
menjadi krisis.”
Pernyataan Menteri Keuangan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan kembali pulih pekan depan setelah ditutup anjlok 7,34 persen ke level 8.320,55 pada penutupan perdagangan, Rabu (28/1/2026).
Anjloknya harga saham di IHSG dipicu oleh pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan evaluasi perubahan saham di bursa Indonesia dan memicu sentimen negatif di kalangan investor asing.
"Ini kan masih shock, besok akan flat. Minggu depan lah Anda lihat minggu depan lah akan balik. Karena fondasi ekonomi betul-betul kita perbaiki dengan serius," kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Purbaya bilang, pemerintah berupaya memperbaiki fondasi ekonomi dengan serius. Saat ini, kata dia, IHSG masih mengalami tekanan hingga melemah ke level merah.
Ke depan pihaknya akan lebih fokus memperbaiki fondasi ekonomi. Menguatnya fundamental ekonomi akan berimplikasi pada menghijaunya IHSG.
Dia menilai, pelemahan IHSG di perdagangan Rabu kemarin hanya bersifat sementara. "Ini karena berita negatif tadi kan, kita tidak dianggap transparan, floating-nya enggak cukup besar sehingga bisa dipermainkan harganya seperti itu," kata dia.
"Banyak penggoreng-penggoreng di pasar saham yang bebas berkeliaran, untungnya banyak, sementara yang investor kecil mungkin sebagian dirugikan," ujarnya.
Berdasarkan hasil diskusinya dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), evaluasi atas penilaian MSCI akan diselesaikan sebelum Mei 2026.
Baca tanpa iklan