Sugeng menjelaskan selama ini impor BBM jadi seperti avtur, bensin, dan solar paling efisien berasal dari Singapura karena jaraknya dekat.
Sementara minyak mentah Indonesia mayoritas diimpor dari Arab Saudi karena sesuai dengan karakter kilang domestik yang sebelumnya hanya mampu mengolah minyak mentah berat (heavy crude oil).
“Sekarang dengan program RDMP, kilang kita makin fleksibel. Kilang Balikpapan bahkan sudah bisa mengolah light sweet crude. Tapi tetap saja, prinsipnya impor tidak boleh menambah volume, hanya menggeser sumber,” tegasnya.
Mengenai perjanjian dagang RI-AS
Sekadar catatan, Pemerintah Indonesia dan AS resmi menandatangani poin-poin kesepakatan perjanjian tarif resiprokal.
Perjanjian dagang itu ditandatangi Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Washington DC pada 19 Februari 2026.
Salah satu poinnya memuat kepastian pembelian komoditas energi dari AS senilai total US$15 miliar atau setara Rp253,4 triliun (kurs Rp16.894).
Dalam dokumen yang dirilis Gedung Putih, Indonesia diwajibkan mendukung dan memfasilitasi pembelian LPG senilai US$3,5 miliar atau setara Rp59,13 triliun.
Selain itu, Indonesia juga akan mengimpor minyak mentah atau crude oil dari Negeri Elang Bondol dengan nilai US$4,5 miliar atau setara Rp76,02 triliun.
Indonesia juga harus mengimpor bahan bakar minyak (BBM) atau bensin olahan senilai US$7 miliar atau setara Rp118,26 triliun.
Baca tanpa iklan