Ringkasan Berita:
- IHSG dibuka melemah pada perdagangan Jumat (6/3/2026) ke level 7.699 dan sempat turun lebih dari 1 persen dengan mayoritas saham berada di zona merah.
- Sebanyak 440 saham melemah, sementara 174 saham menguat dan 344 stagnan dengan nilai transaksi mencapai Rp2,96 triliun.
- Investor mencermati konflik Timur Tengah serta data ekonomi penting, termasuk cadangan devisa Indonesia dan data tenaga kerja AS yang berpotensi memengaruhi arah pasar.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal perdagangan Jumat (6/3/2026) terjerumus ke zona merah.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka melemah ke level 7.699,47 dari posisi penutupan hari sebelumnya 7.710,54.
Pelemahan Indeks makin dalam seiring berjalannya waktu perdagangan hingga merosot 1 persen lebih.
Baca juga: Pasar Modal Digempur Sentimen Negatif, Kemarin IHSG Ambles 4 Persen, Ada Ramalan Menuju Level 7.000
Sejak pembukaan pukul 09.00 WIB hingga 09.23 WIB, IHSG bergerak pada kisaran 7.604,29 hingga 7,799,32.
Ada 174 saham menguat, 440 saham melemah, dan 344 saham stagnan.
Nilai transaksi mencapai Rp2,96 triliun dengan melibatkan 5,9 miliar lembar saham.
Top gainers LQ45 pagi ini adalah:
1. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) (2,20 persen)
2. GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) (1,75%)
3. PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) (1,58%)
Top losers LQ45 pagi ini adalah:
1. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) (-4,28%)
2. PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) (-1,99%)
3. PT Indosat Tbk (ISAT) ( -1,79%)
Investor Pantau Kawasan Timur Tengah
Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan, investor masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi memicu volatilitas pasar global.
Ia memperkirakan IHSG bergerak terbatas dengan kecenderungan konsolidasi.
Area support diperkirakan berada di kisaran 7.580 hingga 7.650, sementara resistance berada pada rentang 7.765 hingga 7.825.
Selain itu kondisi kawasan Timur Tengah, pelaku pasar juga menunggu sejumlah rilis data ekonomi penting.
Di dalam negeri, investor akan mencermati data cadangan devisa Indonesia.
Sementara dari Amerika Serikat, pasar menantikan rilis data nonfarm payrolls, penjualan ritel, serta tingkat pengangguran yang dapat memberi petunjuk arah kebijakan moneter ke depan.
Baca tanpa iklan