Ringkasan Berita:
- BYD menilai masih terlalu dini memutuskan kenaikan harga mobil meski rupiah tembus Rp17.500 per dolar AS.
- Perusahaan mengakui industri otomotif masih memiliki komponen impor yang sensitif terhadap kurs.
- BYD tetap optimistis pasar otomotif dan kendaraan listrik Indonesia tumbuh dalam jangka panjang.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah yang telah tembus Rp17.500 per dolar AS, mulai memunculkan kekhawatiran terhadap potensi kenaikan harga kendaraan di dalam negeri.
Pasalnya, industri otomotif masih memiliki ketergantungan terhadap komponen impor yang membuat biaya produksi rentan terdampak fluktuasi kurs.
Menyikapi hal itu, PT BYD Motor Indonesia menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan akan terjadi penyesuaian harga kendaraan akibat pelemahan rupiah tersebut.
Baca juga: Jetour Masih Ogah Naikkan Harga Meski Rupiah Tembus Rp17.300 per Dolar AS
Head of Public and Government Relations BYD Motor Indonesia, Luther T. Panjaitan mengatakan, perusahaan masih terus mencermati perkembangan nilai tukar dan kondisi pasar sebelum mengambil keputusan terkait harga kendaraan.
"Saya rasa masih terlalu dini berasumsi terhadap harga, walaupun memang kalau dilihat struktur komponen pembentuk produksi kendaraan, masih tetap ada yang berbasis impor,” tutur Luther kepada wartawan di Bogor, Jawa Barat, Rabu (13/5/2026).
Meski demikian, BYD tetap optimistis terhadap prospek pasar otomotif nasional dalam jangka panjang.
Ia menyebut Indonesia masih memiliki potensi besar dari sisi rasio kepemilikan kendaraan yang dinilai masih dapat terus tumbuh.
“Kalau kita tetap selalu melihatnya dalam strategi jangka panjang dan kita tetap positif melihat pasar Indonesia. Kapasitas kepemilikan kendaraan di Indonesia itu masih cukup terbuka lebar,” jelasnya.
Selain itu, BYD juga melihat prospek kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV) di Indonesia masih menjanjikan seiring langkah pemerintah mempercepat transisi kendaraan listrik.
“Khususnya di industri NEV ini, pemerintah Indonesia cukup serius melakukan aktivitas transisi energi melalui percepatan transisi kendaraan ke listrik,” ujar Luther.
Menurutnya, keputusan BYD untuk berinvestasi di Indonesia juga dilandasi keyakinan terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai tetap prospektif.
“Kalau dilihat lebih jauh ke belakang, Indonesia tetap menjadi negara yang prospektif untuk investasi. Jadi kita melihatnya dari jangka panjang, tidak hanya dari dinamika jangka pendek,” ungkapnya.
Luther menambahkan, pihaknya juga terus berkomunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan dan masih melihat optimisme terhadap pasar otomotif domestik di tengah tekanan ekonomi saat ini.
“Kita juga tetap confident dengan market ini dalam situasi sekarang,” kata Luther.
Baca tanpa iklan