News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Gubernur BI Yakinkan DPR, Rupiah Akan Kembali Menguat di Juli 2026

Penulis: Rizki Sandi Saputra
Editor: Choirul Arifin
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

BAHAS PELEMAHAN RUPIAH  - Suasana Rapat Kerja antara Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026). Perry menyatakan, rupiah akan kembali menguat di Juli 2026.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo berusaha meyakinkan DPR bahwa pelemahan nilai tukar rupiah bersifat temporer dan rupiah diyakini akan kembali menguat Juli 2026.

Pernyataan itu disampaikan oleh Perry saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (18/5/2026).

Di rapat, Perry menjelaskan kenapa nilai tukar rupiah mengalami tekanan serius di Mei ini yang bahkan membuat rupiah terus jatuh ke posisi Rp17.671 per dolar AS pada Senin pagi.

"Kita ada average tahunan berapa ada kisaran bawah, kisaran atas untuk tahun 2026. Seingat saya kalau di balam budget itu Rp16.500 ya, kisaran bawahnya Rp16.200, kisaran atasnya Rp16.800."

"Nanti kami akan jelaskan bagian kedua, year to date sekarang, average year to date rupiah sekarang adalah 16.900 sekian. Wah, berarti kan di atas ini," kata Perry di depan DPR.

"Yang kita bicarakan average tahunan. Kalau Pak Andre coba dilihat dari tahun ke tahun, rupiah itu memang umumnya dalam tekanan April, May, Juni. Karena demandnya tinggi," sambungnya.

Perry meyakinkan, setelah ini, rupiah diyakini akan kembali menguat khusunya di bulan Juli, Agustus hingga beberapa bulan ke depan.

Kata Perry, kondisi tersebut memang kerap terjadi di beberapa tahun belakangan ini, yang dimana rupiah mengalami tekanan pada awal tahun, namun kembali menguat di bulan setelahnya.

"Tapi bila Juli, Agustus akan menguat. Coba, Juli, Agustus, September itu kalau kita lihat grafik itu, kenapa kami masih yakin, tapi volatilitas IKU-nya kita volatilitasin sekarang. Tapi tahun depan," kata dia.

Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Terus Merosot, Legislator PAN Minta Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI

Perry menyinggung soal pengalamannya berkutat di sektor keuangan dalam waktu beberapa tahun ini. Dia mengaku telah menghadapi beragam kondisi krisis termasuk di era 1998 dan Covid-19 beberapa tahun lalu.

"Kenapa meyakini nanti insya Allah ada pengalaman dari kami. Kebetulan saya tidak ingin sombong, kebetulan saya memang hidup dari krisis ke krisis. 1997-1998 juga saya ikut di sana, 2008 global seperti itu, taper tantrum juga seperti itu, covid juga begitu," ujarnya.

 "Memang tekanan-tekanan nilai tukar itu umumnya kalau Juli, Agustus, dan semuanya itu akan menguat, sehingga kami meyakini sekarang under value," beber dia.

Perry menyatakan, setidaknya pada momen penguatan, nilai tukar rupiah nanti akan mencapai rata-rata atau asumsi APBN 2026 yang sebesar Rp16.500 per dolar AS.

Baca juga: Rupiah dan IHSG Anjlok, DPR: Bank Indonesia Sudah Kehilangan Trust

"Saya jelaskan, under value diukur, karena sesuai makronya rata-rata Rp16.500, batasannya Rp16.800, kami bisa bawa ke sana. Seasonality-nya April, May, Juni karena demand-nya lagi tinggi," ungkap Perry.

"Nanti Juli, Agustus akan menguat, sehingga secara keseluruhan kami masih ke sana, faktor technical-nya memang ada beberapa faktor global, dan juga faktor domestik," tandas dia.

Rupiah Terus Melemah
Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini