News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Industri Keramik Khawatir Harga Gas Melonjak, ASAKI: Kondisi Sudah SOS

Penulis: Lita Febriani
Editor: Choirul Arifin
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

KHAWATIR HARGA GAS NAIK Pengunjung melihat dari dekat lini produk granite tile di pameran Keramika Indonesia di JCC Senayan Jakarta yang dibuka Kamis, 9 Mei 2024. Pelaku industri keramik nasional mengkhawatirkan lonjakan harga gas bumi yang membuat produk mereka kalah kompetitif.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelaku industri keramik nasional mengkhawatirkan lonjakan harga gas bumi yang dinilai dapat menekan daya saing manufaktur dalam negeri di tengah situasi geopolitik yang masih memanas.

Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (ASAKI) menilai kenaikan harga regasifikasi LNG oleh PGN mulai Juni 2026 berpotensi memukul industri nasional.

Pasalnya, biaya energi menjadi komponen utama dalam proses produksi keramik yang hingga kini belum dapat digantikan sumber energi lain.

Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto mengatakan industri keramik sangat bergantung pada kelancaran pasokan gas bumi.

"Urat nadi industri keramik ada di supply gas, industri keramik harus didukung dengan supply gas. Kenapa? Karena gas bagi industri keramik adalah energi yang tidak bisa disubstitusi. Mati hidup industri keramik ada di kelancaran supply gas," tutur Edy melalui keterangan resmi, Senin (25/5/2026).

ASAKI menilai industri keramik saat ini berada dalam fase ekspansi memerlukan dukungan dari sisi ketersediaan pasokan dan harga gas yang terjangkau agar tetap kompetitif di pasar global.

Edy mengungkapkan, ancaman terbesar saat ini berasal dari rencana kenaikan harga regasifikasi LNG oleh PGN yang disebut akan naik dari 14,9 dolar AS menjadi sekitar 21 hingga 25 dolar AS per MMBTU mulai Juni mendatang.

Baca juga: SKK Migas Dorong Alokasi dan Harga Gas Domestik untuk Industri Lokal 

Kenaikan itu diperkirakan akan mendorong harga rata-rata gas yang diterima anggota ASAKI melonjak signifikan. Jika pada Januari 2026 harga gas masih berada di kisaran 9 dolar AS per MMBTU dan naik menjadi 11 dolar AS pada April, maka mulai Juni harga diperkirakan menyentuh 15 dolar AS per MMBTU.

"Artinya, dalam kurun waktu 6 bulan ini harga gas naik sangat signifikan di atas 60 persen," terang Ketum ASAKI Edy.

Ia menilai lonjakan harga tersebut bukan hanya mengancam industri keramik, melainkan seluruh sektor manufaktur nasional karena dapat menekan daya saing industri dan berdampak terhadap Purchasing Managers’ Index (PMI).

"Ini merupakan ancaman serius bagi industri dalam negeri. Tidak hanya keramik. Kalau ini dibiarkan, ini akan menggerus PMI," ucap Edy.

Edy juga mempertanyakan mahalnya harga gas industri di Indonesia dibanding negara lain, padahal Indonesia merupakan produsen gas bumi.

 

"Malaysia 9,5, Thailand 9,9. Thailand masih import. Kita tidak import, kita produsen. Kenapa harga gas yang diberikan ke kita ini tidak berdaya saing sama sekali?" terangnya.

ASAKI disebut telah menyampaikan surat keberatan kepada direksi PGN, namun hingga kini belum memperoleh tanggapan.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini