News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Harga Saham

IHSG Jebol ke Bawah 5.900, Sudah Rontok 1,71 Persen

Editor: Seno Tri Sulistiyono
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

IHSG ANJLOK- Pengunjung bermain handphone di depan layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta Pusat. Sekitar pukul 09.13 WIB, IHSG anjlok 1,71 persen ke level 5.839,24 dari posisi penutupan kemarin 5.941,07.

Ringkasan Berita:

  • HSG kembali tertekan pada awal perdagangan Kamis, anjlok 1,71 persen ke level 5.839,24 hanya dalam 13 menit setelah pembukaan perdagangan.
  • Sentimen negatif berasal dari penilaian lembaga rating Moody's, Fitch, dan S&P terhadap Danantara yang dinilai sangat bergantung pada dukungan pemerintah, sementara Moody's mempertahankan outlook negatif.
  • Pelemahan rupiah hingga Rp18.000 per dolar AS meningkatkan risk premium Indonesia dan picu kekhawatiran investor asing terhadap prospek investasi.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles 1 persen lebih pada awal perdagangan Kamis (4/6/2026).

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), sekitar pukul 09.13 WIB, IHSG anjlok 1,71 persen ke level 5.839,24 dari posisi penutupan kemarin 5.941,07.

Dalam 13 menit perdagangan sejak dibuka pukul 09.00 WIB, IHSG bergerak pada rentang 5.837,76 hingga 5.924,51.

Baca juga: IHSG Kemarin Anjlok 4 Persen, Hari Ini Diramal Masih Sulit Bangkit Akibat Banyaknya Sentimen Negatif

Ada 476 saham melemah, 113 saham menguat, dan 370 saham stagnan.

Nilai transaksi mencapai Rp2,18 triliun dengan melibatkan 3,42 miliar lembar saham.

Riset PT Kiwoom Sekuritas Indonesia menyampaikan, adanya pengumuman lembaga rating yakni Moody's, Fitch, dan S&P yang memberikan peringkat Investment Grade kepada Danantara, yang mana mereka menilai kualitas kreditnya sangat bergantung pada dukungan Pemerintah Indonesia, bukan kekuatan bisnis mandiri, memberikan tekanan terhadap IHSG.

Menurutnya, Moody's bahkan memberikan outlook negative yang secara eksplisit mengikuti outlook sovereign Indonesia, sementara S&P menegaskan penurunan rating negara akan langsung berdampak pada Danantara. 

Di saat yang sama, S&P mengungkap sumber pendanaan utama Danantara akan berasal dari dividen BUMN sebesar USD 5-6 miliar per tahun dan sebagian modalnya dapat diarahkan ke proyek strategis pemerintah seperti waste-to-energy.

"Temuan ini membentuk pandangan pasar tentang Danantara, dan risiko sovereign Indonesia yang semakin merembet ke institusi yang seharusnya menjadi motor investasi nasional," tulisnya.

Selain itu, tekanan juga berasal dari rontoknya nilai tukar rupiah di ke level Rp18.000 per dolar AS

"Kiwoom Research kembali ingatkan para investor/trader bahwa walau kelihatannya posisi dan valuasi harga saham emiten saat ini terbilang murah dan menarik untuk dibeli, namun di belakang semua itu terdapat risk premium yang semakin diperhitungkan oleh foreign fund untuk merasa nyaman berinvestasi di Indonesia," paparnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini