TRIBUNNEWS.COM - Pasar modal Indonesia kembali dihantam gelombang aksi jual masif pada hari Jumat (5/6/2026) menjelang penutupan bursa pekan ini.
Hancurnya kondisi bursa saat ini bisa dilihat dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali terkoreksi sangat tajam sepanjang sesi perdagangan hari ini dan terpaksa ditutup di zona merah dengan penurunan yang sangat signifikan.
Kondisi ini mencerminkan kepanikan pasar yang cukup merata di berbagai sektor saham unggulan.
Berdasarkan data resmi pada papan penutupan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG atau IDX ditutup merosot tajam sebesar 4,20 persen atau kehilangan sekitar 245,03 poin ke level 5.594,77.
Kejatuhan ini tidak hanya menimpa indeks acuan utama, tetapi juga menghantam indeks saham-saham berkapitalisasi besar serta indeks berbasis syariah secara serentak.
Longsor Sejak Pembukaan Pagi
Kejatuhan pasar saham dalam negeri sebenarnya sudah terindikasi kuat sejak awal perdagangan dibuka.
Memantau visual grafik pergerakan pasar, pergerakan indeks langsung menukik tajam sesaat setelah bel pembukaan berbunyi.
Tekanan jual yang masif dari para investor domestik maupun asing membuat indeks tidak mampu memberikan perlawanan berarti sepanjang hari.
Hingga sore hari mendekati akhir sesi, tepatnya pada pukul 15.49 WIB, situasi pasar belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Indeks komposit sempat tertahan di level 5.607,49 sebelum akhirnya kembali tertekan di menit-menit terakhir menjelang prapenutupan perdagangan bursa.
Grafik pergerakan hari ini menunjukkan garis merah yang cenderung landai di area bawah setelah terjun bebas di paruh pertama perdagangan.
Baca juga: Bhima CELIOS: Rupiah Bisa Tembus Rp20.000 per Dolar pada Akhir Juni, Kelas Menengah Menyusut
Saham Perbankan Raksasa Jadi Korban Utama
Koreksi dalam yang dialami bursa hari ini utamanya dipicu oleh rontoknya harga saham-saham berkapitalisasi pasar besar (big caps), terutama dari sektor perbankan yang selama ini menjadi penopang utama indeks.
Aksi lepas saham secara masif oleh pelaku pasar membuat saham-saham blue chip berguguran dengan persentase penurunan yang cukup drastis.
Salah satu tekanan terbesar datang dari saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang anjlok 6,45 persen ke level Rp5.075 per lembar saham.
Baca tanpa iklan