"Tingkat pengadopsian AI di Indonesia sudah cukup maju dibandingkan banyak negara lain. Tapi tantangan utamanya adalah data dan talenta," ujar Sherlie.
Menurutnya, AI membutuhkan data yang berkualitas, terstruktur, dan dapat diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Selain itu, Indonesia juga perlu terus memperkuat ketersediaan talenta yang memiliki kompetensi di bidang AI, data analytics, dan teknologi digital lainnya.
Sherlie menjelaskan, Cloudera saat ini berfokus membantu pelanggan membangun fondasi AI yang kuat melalui penguatan tata kelola data, proses bisnis, serta tahapan implementasi yang terukur.
"Kami membantu pelanggan membangun fondasi AI yang kuat, yaitu tata kelola data, proses, dan tahapan implementasi yang matang sebelum mereka mengembangkan berbagai use case AI," katanya.
Sementara itu, sektor perbankan menjadi salah satu industri yang merasakan manfaat nyata dari pemanfaatan AI.
Executive Vice President Enterprise IT & Data Management BCA, Lily Wongso, mengatakan AI kini telah menjadi bagian penting dari agenda strategis perusahaan.
BCA bahkan terus memperluas pemanfaatan AI karena melihat potensi yang masih sangat besar dalam meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas layanan.
"AI telah menjadi bagian penting dari agenda strategis kami dan kami tidak akan berhenti mengembangkan AI karena masih terdapat potensi yang sangat besar, khususnya dalam meningkatkan efisiensi proses bisnis," ujar Lily.
Menurutnya, berbagai implementasi AI yang telah dijalankan BCA berhasil memberikan peningkatan efisiensi yang signifikan, berkisar antara 30 persen hingga 80 persen, tergantung pada jenis proses bisnis yang ditangani.
Salah satu contoh penerapan AI yang memberikan dampak nyata adalah model prediksi saldo rekening nasabah. Teknologi tersebut memungkinkan BCA menjalankan kampanye pemasaran secara lebih tepat sasaran dan berbasis data.
Lily mengungkapkan, implementasi tersebut berkontribusi terhadap peningkatan dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) sekitar Rp1,2 triliun setiap bulan.
Pengalaman serupa juga dirasakan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI.
Senior Vice President AI & Data Analytics Division BNI, Handika Hakim, menyebut AI telah menjadi salah satu penggerak utama berbagai inisiatif bisnis perusahaan.
"Di BNI, AI berperan seperti bahan bakar. Tidak hanya menghasilkan pertumbuhan CASA, tetapi juga menjadi akselerator untuk mempercepat efektivitas berbagai inisiatif bisnis yang telah dijalankan oleh BNI," kata Handika.
Baca tanpa iklan