Ringkasan Berita:
- Perusahaan energi China membidik pengembangan PLTS hingga 100 GW di Indonesia untuk mendukung percepatan transisi energi bersih.
- Kerja sama Indonesia-China difokuskan pada teknologi penyimpanan energi, sistem microgrid, investasi, transfer teknologi, dan pemenuhan TKDN melalui skema joint venture.
- Pengembangan PLTS didukung target elektrifikasi nasional, termasuk program Listrik Desa di 2.065 lokasi pada 2026 guna memperluas akses listrik dan memperkuat ketahanan energi nasional.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perusahaan dan pelaku industri energi dari China membidik peluang pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 gigawatt (GW) di Indonesia, seiring ambisi pemerintah mempercepat transisi menuju energi bersih.
Peluang tersebut menjadi salah satu topik utama dalam EESA Summit Indonesia 2026 yang digelar di Jakarta, Selasa (9/6/2026). Forum ini mempertemukan pemerintah, BUMN, investor, dan perusahaan teknologi energi dari Indonesia dan China.
COO Seven Event Agus Riyadi mengatakan, EESA Summit menjadi wadah untuk memperkuat kolaborasi antara Indonesia dan China dalam pengembangan teknologi penyimpanan energi.
Baca juga: IESR Tekankan Pentingnya Agenda Prioritas dalam Program PLTS 100 GW
"Kami berharap, sinergi yang kuat antara Indonesia dan Tiongkok, khususnya melalui pemanfaatan inovasi teknologi penyimpanan energi, dapat mempercepat pencapaian target transisi energi bersih serta mendukung ketahanan energi nasional yang andal dan berkelanjutan," ujar Agus dalam keterangannya, Rabu (10/6/2026).
Sejumlah perusahaan teknologi energi asal China turut menawarkan solusi penyimpanan energi dan sistem microgrid yang dinilai cocok diterapkan di wilayah kepulauan Indonesia, termasuk daerah terpencil dan kawasan 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).
Pembahasan juga menyoroti pentingnya pemenuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam pengembangan industri energi nasional. Pemerintah mendorong kerja sama investasi dan pembentukan usaha patungan (joint venture) agar transfer teknologi sekaligus penguatan industri lokal dapat berjalan.
Dalam sesi lain, pemerintah mengungkapkan target pembangunan program Listrik Desa (Lisdes) di 2.065 lokasi pada 2026 guna memperluas akses listrik di berbagai wilayah Indonesia.
Sekretaris Jenderal EESA, Rene Duan, menilai Indonesia merupakan salah satu pasar energi bersih yang paling potensial di kawasan.
Menurutnya, kerja sama Indonesia dan China tidak hanya membuka peluang investasi baru, tetapi juga membantu membangun sistem kelistrikan yang lebih andal dan ramah lingkungan.
"Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam mengembangkan energi bersih. Melalui EESA Summit Indonesia ini, kami berkomitmen untuk terus menjadi jembatan kerja sama antara Tiongkok dan Indonesia sehingga dapat mewujudkan sistem energi masa depan yang andal dan ramah lingkungan," ujar Rene.
Melalui kerja sama tersebut, teknologi penyimpanan energi dari China diharapkan dapat mendukung pengembangan PLTS hingga 100 GW sekaligus memperkuat keandalan pasokan listrik di berbagai wilayah Indonesia.
Baca tanpa iklan