TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini berpotensi memasuki fase konsolidasi atau koreksi wajar setelah mencatat reli tajam dalam dua hari terakhir.
Aksi ambil untung (profit taking) dinilai berpeluang meningkat, terutama karena investor asing masih membukukan penjualan bersih (net sell) dalam jumlah besar.
Pada perdagangan Rabu, 10 Juni 2026 kemarin, IHSG ditutup menguat 2,71 persen ke level 5.902,38 yang melanjutkan penguatan sehari sebelumnya dengan kenaikan IHSG mencapai 7,57 persen.
Founder Republik Investor sekaligus pengamat pasar modal Hendra Wardana menilai, secara teknikal area support IHSG saat ini berada di kisaran 5.731, sementara level 6.000 menjadi resistance psikologis yang cukup kuat.
Menurutnya, apabila IHSG gagal menembus dan bertahan di atas level tersebut, maka peluang terjadinya koreksi jangka pendek menuju area support menjadi cukup besar.
"Namun, selama IHSG mampu bertahan di atas area 5.700, tren pemulihan jangka menengah masih tetap terjaga," ujar Hendra, Rabu (10/6/2026).
Ia menambahkan, meskipun sentimen jangka pendek mulai membaik berkat stabilisasi nilai tukar rupiah dan respons positif pasar terhadap kebijakan Bank Indonesia (BI), pasar masih membutuhkan konfirmasi lanjutan sebelum dapat melanjutkan penguatan secara berkelanjutan.
Konfirmasi tersebut antara lain berupa kembalinya aliran dana asing ke pasar domestik, meredanya ketidakpastian geopolitik global, serta membaiknya indikator ekonomi nasional.
Baca juga: Kenaikan BI Rate dan Harga Pertamax Topang Penguatan Rupiah dan IHSG
Dengan kondisi tersebut, Hendra memperkirakan pergerakan IHSG dalam beberapa hari ke depan akan lebih didominasi oleh fase konsolidasi yang sehat setelah reli kuat, sebelum menentukan arah pergerakan selanjutnya.
Terkait lonjakan IHSG yang telah mencapai lebih dari 10 persen dalam dua hari perdagangan, Hendra mengingatkan investor agar tetap berhati-hati dan tidak terlena oleh euforia jangka pendek.
Secara historis, reli yang berlangsung sangat cepat kerap diikuti oleh aksi profit taking, terutama dari investor dan trader jangka pendek yang memanfaatkan momentum rebound.
Baca juga: Tak Ada Pergantian Menkeu, Pengamat Tanggapi Rupiah dan IHSG yang Kompak Menguat
Indikasi tersebut terlihat dari masih terjadinya aksi jual bersih investor asing sebesar Rp 2,9 triliun pada perdagangan Rabu (10/6/2026).
Kondisi itu menunjukkan bahwa meskipun IHSG menguat signifikan, investor global masih belum sepenuhnya kembali percaya terhadap prospek pasar Indonesia dalam jangka pendek.
"Dengan kata lain, penguatan yang terjadi saat ini masih lebih banyak ditopang oleh investor domestik dibandingkan arus dana asing yang berkelanjutan," ujar Hendra.
Laporan Reporter: Dimas Andi | Sumber:
Baca tanpa iklan