Laporan Langsung Wartawan Tribunnews.com dan Media Center Haji dari Arab Saudi, Sri Juliati
TRIBUNNEWS.COM – Jemaah haji asal Indonesia disarankan untuk melaksanakan ibadah umrah wajib pada waktu-waktu yang lebih aman dari cuaca ekstrem, yakni pada pagi hari setelah shalat Subuh serta pada sore hingga malam hari.
Imbauan ini ditekankan kepada para ketua rombongan dan ketua kloter agar memperhatikan kondisi jemaah, khususnya jemaah lanjut usia (lansia).
Mereka diminta mengatur waktu ibadah agar tidak terpapar panas terik yang dapat berdampak pada kesehatan.
Menurut Kepala Seksi Kepala Seksi PKPPJH serta Lansia dan Disabilitas daerah kerja (Daker) Makkah, dr Ridwan Siswanto, pelaksanaan umrah setelah Subuh dinilai lebih aman karena suhu udara masih relatif sejuk.
"Namuin, tidak usah berlama-lama, jangan menunggu terik, segera kembali lagi ke hotel setelah selesai," kata dr Ridwan kepada tim Media Center Haji (MCH), Minggu (3/5/2026).
Selain pagi hari, waktu yang juga direkomendasikan untuk melaksanakan umrah adalah sore menjelang malam. Pada periode ini, suhu udara cenderung lebih bersahabat sehingga lebih aman bagi jemaah haji, terutama lansia.
Ia menegaskan, pengaturan waktu ibadah ini penting untuk menjaga kesehatan jemaah selama berada di Tanah Suci, mengingat suhu di Makkah dalam beberapa hari terakhir cukup tinggi.
Diketahui, suhu udara di Kota Makkah selama beberapa hari terakhir sangat panas, bahkan mencapai sekitar 40 derajat Celsius. Kondisi ini pun mulai berdampak pada kondisi kesehatan jemaah haji asal Indonesia.
Selain itu, dr Ridwan membeberkan mengenai perbedaan suhu antara Indonesia dan Arab Saudi yang menjadi tantangan tersendiri bagi jemaah haji, terutama yang baru tiba setelah perjalanan panjang dari Madinah.
"Jarak tempuh dari hotel ke Masjidil Haram bisa mencapai 500 meter hingga 1 kilometer. Ini menjadi beban tambahan bagi lansia jika tidak diatur dengan baik," tambahnya.
Baca juga: Kenali Tanda Dehidrasi untuk Cegah Heatstroke saat Ibadah Haji: Mulut Kering, Urine Berwarna Keruh
Ia juga mengingatkan agar kegiatan seperti city tour tidak dipaksakan, khususnya bagi jemaah yang berisiko tinggi.
"Jangan dipaksakan, harus benar-benar selektif, obyektif, lihat jemaahnya yang kira-kira kuat yang mana. Kalau yang masih usia muda mungkin masih oke, tapi kalau yang sudah kategori lansia, jangan dipaksakan," tegasnya.
Ia mengingatkan,puncak ibadah haji berada pada fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) yang membutuhkan kondisi fisik prima. Pasalnya
Oleh karena itu, jemaah haji diminta untuk mengatur strategi dengan tidak menguras tenaga sejak awal.
"Ibadah secukupnya saja, tidak mesti harus bolak-balik ke Masjidil Haram. Selama ibadahnya di Tanah Haram, kualitas pahalanya sama," pungkas dr Ridwan.
Baca tanpa iklan