Daun pisang dengan kualitas terbaik dijual dengan harga Rp 5.000 hingga Rp 6.000 per kilogram.
Bahkan saat musim angin atau cuaca buruk yang membuat daun berkualitas baik sulit didapat, harganya bisa menembus Rp 7.000 per kilogram.
"Sementara daun yang kualitasnya kurang baik biasanya dijual kepada perajin tempe dengan harga sekitar Rp 2.000 hingga Rp 3.000 per kilogram," tutur Sabar, putra sulung Mbah Painah yang menemaninya berhaji.
Antarkan dengan Berjalan Kaki
Lebih lanjut, Mbah Painah bercerita, daun-daun pisang itu diantarkannya sendiri ke rumah para pemesan dengan berjalan kaki.
Jarak tempuh yang mencapai 1 hingga 2,5 km bukanlah persoalan baginya.
"Enten sing tebih, enten sing caket, kulo mlampah, mboten nitih pit (Ada yang jauh, ada yang dekat, tidak naik sepeda)," kisah Mbah Painah.
Ketekunan itulah yang membuatnya terbiasa dengan aktivitas fisik.
Termasuk saat menjalani ibadah haji di Tanah Suci, Mbah Painah mampu menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah tanpa menggunakan kursi roda.
Didampingi Sabar, Mbah Painah berjalan kaki saat tawaf di area mataf Masjidil Haram, menjalani sa'i, hingga mengikuti prosesi lempar jumrah selama tiga hari.
Bahkan ketika bus shalawat sempat berhenti beroperasi sebelum puncak haji, Mbah Painah memilih tetap berjalan kaki menuju Masjidil Haram.
Ia menempuh jarak hingga 2,5 km dari lokasi hotelnya yang berada di sektor 8, Misfalah.
"Ibu hampir setiap hari ke Masjidil Haram," lanjut Sabar.
Berawal dari Ajakan Suami
Mbah Painah mengaku, tak pernah membayangkan rutinitas sederhana yang dijalaninya selama puluhan tahun akan membawanya sampai ke Makkah.
Impian berhaji sebenarnya bermula ketika Munasir (71) suaminya diajak kerabat dan seorang kiai kampung untuk mendaftar haji.
Saat itu, Mbah Painah justru belum tertarik. Ia lebih memilih agar anak-anaknya saja yang berhaji.
Baca tanpa iklan