Laporan langsung wartawan Tribunnews.com dan Media Center Haji dari Arab Saudi, Sri Juliati
TRIBUNNEWS.COM - Lembar demi lembar daun pisang telah mengantarkan Mbah Painah (65) ke banyak tempat.
Dari pasar, warung pecel, hingga rumah-rumah warga yang menggelar hajatan di Wonosobo, Jawa Tengah.
Namun siapa sangka, dari hasil menjual daun pisang itu pula, Mbah Painah akhirnya bisa menjejakkan kaki di Tanah Suci.
Selama puluhan tahun, hidup warga Dusun Ngedok, Kelurahan Wonosobo Barat itu diisi rutinitas yang nyaris tak berubah.
Kala jarum jam berada di antara satu dan dua dini hari, Mbah Painah sudah memulai aktivitasnya.
Sendirian, ia berjalan pelan menuju Pasar Pagi Wonosobo yang tak jauh dari rumahnya untuk berjualan aneka sayur hasil tani.
"Nggih macem-macem, wonten bayem, buncis, kacang panjang (Ya, bermacam-macam, ada bayam, buncis, kacang panjang)," ujar Mbah Painah saat ditemui tim Media Center Haji (MCH) di Makkah, Minggu (7/6/2026).
Tepat saat azan Subuh berkumandang, Mbah Painah menyelesaikan pekerjaannya.
Jemaah yang tergabung dalam kloter YIA 22 itu lantas menunaikan salat, beristirahat sejenak, lalu mengurus keperluan rumah sembari menyiapkan dagangan berikutnya.
Sekitar pukul 06.30 WIB, perempuan yang dikaruniai empat anak itu kembali melangkahkan kaki keluar rumah.
Baca juga: Maspupah Terharu Saat Tinggalkan Makkah, Jemaah Haji Indonesia Mulai Diberangkatkan ke Madinah
Kali ini, bukan sayuran yang ia bawa, melainkan tumpukan daun pisang yang telah menjadi sumber penghidupannya selama bertahun-tahun sejak sebelum tahun 1991.
Daun-daun tersebut, didapat Mbah Painah dari sejumlah pemilik kebun pisang di wilayah Sambek hingga Mangli yang berada di lereng Gunung Sumbing.
Sebagian diantar langsung oleh pemilik kebun, sebagian lainnya ia cari sendiri.
Sesampainya di rumah, daun-daun pisang itu tidak langsung dijual. Mbah Painah memilahnya terlebih dahulu berdasarkan kualitas atau 'kelas.'
Baca tanpa iklan