Namun belahan jiwanya itu memiliki keinginan berbeda. Ia ingin berangkat ke Tanah Suci bersama Mbah Painah.
"Terus bapak bilang gini: Nek nyong mangkat, kono ora, nyong emoh. Nek gelem mangkat ya mayuh (Kalau saya berangkat, kamu tidak, saya nggak mau. Kalau mau berangkat, ya ayo)," tutur Sabar.
Keduanya lantas mendaftar haji pada tahun 2012 dan mulai menyiapkan biaya sedikit demi sedikit dari hasil kerja sehari-hari.
Tak ada cara istimewa yang dilakukan Mbah Painah. Dari keuntungan berjualan sayur dan daun pisang, ia menyisihkan sebagian kecil uang yang dimiliki untuk ditabung.
Setiap bulan, ia rutin menyimpan uang melalui kegiatan arisan di kampungnya selama 18 tahun.
"Mboten kathah, paling kalihatus (Nggak banyak, hanya Rp 200 ribu) dan rutin," ujar Mbah Painah.
Kesabaran itu akhirnya berbuah manis. Tahun ini, Mbah Painah bisa berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji pertamanya.
Meski sang suami yang lebih dulu mengajaknya mendaftar tidak dapat berangkat karena terkendala syarat kesehatan, Mbah Painah tetap menuntaskan perjalanan spiritual yang telah mereka impikan bersama.
"Ya, bapak memang sempat kecewa, tapi kemarin sudah terobati karena sebelum puasa Ramadhan, bapak berangkat umrah. Setelah ibu berangkat haji, rencananya akan berangkat umrah bareng-bareng," ucap Sabar.
Baca juga: Hotel di Madinah Berjarak Mulai 50 Meter dari Masjid Nabawi, Jemaah Diimbau Ingat Nama dan Sektornya
Momen Lihat Ka'bah
Saat pertama kali melihat Ka'bah, reaksi Mbah Painah jauh dari kesan dramatis.
"Biasa-biasa mawon, tapi nggih seneng banget (biasa-biasa saja, tapi senang sekali)," jawabnya polos, yang langsung disambut tawa orang-orang di sekelilingnya.
Namun di balik jawaban sederhana itu, mata Mbah Painah sesungguhnya menyimpan rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Sebab selama berada di depan Ka'bah, yang ia pikirkan bukan dirinya sendiri. Ia hanya memohon kesehatan, kebahagiaan, dan kebaikan bagi suami, anak, cucu, serta keluarganya.
"Nyuwun anak bojo seneng, nyuwun ahli waris sehat waras, putu-putu sugih waras (memohon suami anak bahagia, memohon ahli waris/keturunan sehat, cucu-cucu juga sehat)," ungkapnya.
Ketika ditanya apa harapannya setelah pulang berhaji dan menyandang gelar hajjah, Mbah Painah sempat menjawab singkat sambil tertawa.
Baca tanpa iklan