News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Pengakuan Wanita Rohingya: 'Tentara Perkosa Kami Secara Bergantian'

Editor: Rendy Sadikin
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Sejumlah massa dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (24/11/2016). Aksi tersebut mengutuk keras genosida yang dilakukan Pemerintah Junta Militer Myanmar terhadap etnis Rohingya dan mendesak pemerintah Indonesia untuk memutuskan hubungan diplomatik dan mengusir kedutaan besar Myanmar. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN

TRIBUNNEWS.COM, DHAKA — Habiba dan saudarinya adalah beberapa warga etnis minoritas Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar ke Banglades.

Mereka memilih melintasi perbatasan untuk menghindari kekerasan yang dilakukan personel militer Myanmar.

Di Banglades, Habiba membagi kisah pilunya yang juga banyak dialami pengungsi perempuan Rohingya yang kabur dari Myanmar.

"Mereka (tentara) mengikat kami berdua lalu memerkosa kami secara bergantian," kata Habiba (20), yang kini ditampung di sebuah kamp pengungsi 20 kilometer dari perbatasan Banglades-Myanmar.

"Di sini kami hampir mati kelaparan. Namun, setidaknya tak ada yang datang ke sini untuk membunuh atau memerkosa kami," kata Hashim Ullah, kakak laki-laki Habiba yang ikut mengungsi bersama saudari-saudarinya.

Habiba dan adiknya, Samira (18), mengatakan, tentara memerkosa mereka di kampung halamannya di Desa Udang.

Tak hanya memerkosa, para tentara itu juga kemudian membakar habis kediaman keluarga Habiba.

"Mereka membakar sebagian besar rumah di desa, membunuh banyak orang termasuk ayah kami, dan memerkosa banyak perempuan," tambah Habiba.

"Salah seorang tentara mengatakan, mereka akan membunuh kami jika melihat kami lagi saat mereka singgah lagi di desa. Lalu mereka membakar rumah kami," kenang dia.

Hasim Ullah dan saudari-saudarinya kabur dengan membawa tabungan keluarga sebesar 400 dollar AS atau hanya Rp 5,4 juta.

Mereka kemudian menyeberangi Sungai Naf yang memisahkan negara bagian Rakhine, Myanmar, dan wilayah selatan Banglades.

Hasim Ullah, Habiba, dan Samira menghabiskan waktu selama empat hari bersembunyi di perbukitan bersama ratusan keluarga Rohingya lainnya.

Akhirnya mereka menemukan seorang pemilik perahu yang bersedia menyeberangkan mereka ke wilayah Banglades.

"Namun, dia meminta semua uang yang kami punya," kata Hasim.

Pemilik perahu kemudian meninggalkan Hasim dan adik-adiknya di sebuah pulau kecil di dekat perbatasan.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini