Meski begitu, Akram tidak khawatir dengan pernikahannya.
Topik soal perkawinan beda agama telah diangkat berkali-kali setiap dia berbincang dengan kerabat dan tetangganya sekaligus mengundang mereka untuk datang ke pernikahannya.
Ini adalah tradisi kelompok etnis Nubian. Undangan harus disampaikan secara verbal. Jika seseorang menerima undangan pernikahan secara tertulis, dia akan merasa terhina dan tidak akan datang.
"Berbincang dengan tetangga-tetangga, menyanyi, makan, dan menari. Bagi mempelai pria, itu lebih penting daripada bagian keagamaan dari upacara pernikahan," cetus Akram, sembari menawari jabana—kopi yang dicampur kayu manis dan kapulaga.
Beberapa cangkir kemudian, teman-teman Akram menarik dia menuju masjid untuk acara akad nikah. Selagi melewati kebun mangga, Akram menunjuk ke sebuah gereja yang rusak.
"Beberapa bangunan Kristen di sini diserang orang-orang luar. Namun kami bersatu dan mengusir mereka," ujarnya.
Di suatu sudut dekat masjid, imam Mohamed Sobhy berjalan. Dia adalah seorang cendekiawan Muslim yang dengan bangga memperlihatkan buku-buku koleksinya soal ajaran Islam, Kristen, dan beberapa agama lainnya.
"Kekristenan ada di sini selama lebih dari 800 tahun. Bagi saya, pernikahan beda agama bukan hal besar. Saya ingin orang-orang menrima sesamanya. Umat Muslim dan Kristen, kami bisa hidup secara damai."
Sobhy lalu menepuk pundak Akram.
"Di komunitas kami, perceraian bukan hal biasa. Dan menikahi lebih dari satu perempuan tidak diperbolehan. Bagi para pemuda, kekristenan punya pengaruh sangat positif!"
Kesepakatan imam dan pastor
Di rumah Sally, mempelai perempuan itu sibuk berdandan didampingi teman-temannya.
Rosario menggantung di lehernya dan salib terpasang di atas pintu semua ruangan di rumah tersebut.
"Yang saya lakukan adalah datang, menari, bersalam-salaman, dan kami pergi," ujar Sally.
"Saya tidak peduli pada akad nikah. Itu acara untuk orang-orang lain, tapi bukan kami, kedua mempelai. Itu bukan prioritas saya."
Baca tanpa iklan