Pengeboman dua gereja Koptik yang menewaskan puluhan orang pada 9 April lalu menggarisbawahi potensi bahaya yang dialami minoritas Kristen di Mesir. Namun, di kalangan kelompok etnis Nubian yang hidup di bagian selatan Mesir, umat Muslim dan Kristen hidup berdampingan secara damai. Berikut laporan Nicola Kelly yang menghadiri pernikahan sepasang pengantin beda agama di Kota Aswan.
"Semua orang selalu menasihati saya untuk menikahi gadis dari komunitas saya. Tapi itu mustahil. Saya tidak bisa jauh darinya," kata Akram sembari mengerjapkan mata.
Ucapan itu keluar dari mulut Akram beberapa jam sebelum dia menghadiri akad nikah di masjid sebuah desa di bantaran Sungai Nil.
- Gereja Koptik dibom, Mesir terapkan keadaan darurat
- Bom di dua Gereja Koptik Mesir, 31 tewas, tak ada korban WNI
- Diserang ISIS, kaum Kristen Koptik Mesir mengungsi
Akad nikah Akram bukan upacara pernikahan biasa. Akram akan mengucapkan ikrarnya sebagai mempelai pria di masjid, sedangkan Sally—sang mempelai perempuan yang beragama Kristen—mendaraskan doa secara pribadi di rumah.
"Kami adalah dua mempelai pertama yang menikah di luar agama kami. Itu sangat sulit, khususnya bagi orang tua saya," kata Akram.
Selama tujuh tahun, Akram dan Saly dilarang bertemu oleh orang tua mereka masing-masing.
Bahkan, anggota komunitas, pemuka agama, dan teman-teman berupaya mencegah mereka berjumpa. Namun, sepasang kekasih itu masih bisa menyiasati cara untuk bersua.
"Kami sepakat menikah pada malam hari sehingga keluarga kami tidak malu," kata Akram.
Bagi kelompok etnis Nubian, seperti Sally dan Akram, menikah beda agama tidak dilarang, namun tetap tabu.
Karena itu, mereka merayakan pernikahan sendiri-sendiri pada siang hari dan baru bertemu pada malam hari. Pertemuan tersebut akan ditandai dengan tarian.
Berisiko
Akram dan Sally pertama kali bertemu tujuh tahun lalu di Aswan, tempat anak muda berkumpul, mencamil es krim, dan bercanda. Kota itu dapat ditempuh dalam tempo singkat dari desa mereka, Shadeed.
"Dia suka candaan saya. Dan saya selalu menantikan untuk bisa berjumpa dia. Tidak mudah, tapi sekarang kami di sini," kata Akram.
Hubungan seperti Akram dan Sally sangat berisiko di daerah lainnya.
Sejak revolusi 2011, serangan terhadap penganut Kristen di Mesir meningkat. Tercatat ada 54 insiden aksi kekerasan yang menyebabkan kaum minoritas keagamaan menjadi korban.
Baca tanpa iklan