Militer AS selama ini terkenal kurang keragaman di dalam jajaran kepemimpinannya.
Menurut angka terakhir Pentagon, ada 18,7% persen orang Afrika-Amerika yang terdaftar menjadi anggota militer.
Tetapi nyatanya hanya 8,8 persen orang kulit hitam di jajaran pimpinan, berbanding dengan 76,1 persen orang kulit putih.
Amerika Serikat sudah sejak lama bergulat dengan isu rasisme yang kuat sehingga hal ini turut mempengaruhi kondisi militer.
Semua kepala dinas militer dalam beberapa hari terakhir ini menyerukan perlunya mengatasi masalah ras di antara militer, menyoal protes kematian Floyd.
Baca: Jet Tempur China Mendekat usai Pesawat AS Melintas, Militer Taiwan Langsung Bereaksi
Baca: Tentara Garda Nasional AS Positif Covid-19 Setelah Kawal Unjuk Rasa Kematian George Floyd
Dalam hal ini Angkatan Darat dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk mengganti nama hampir selusin pangkalan utama dan instalasi yang berkaitan dengan masalah itu.
"Saya berpikir tentang Afrika-Amerika yang pergi sebelum saya untuk membuat peluang ini menjadi mungkin."
"Saya berpikir tentang harapan besar yang datang dengan nominasi bersejarah ini, terutama melalui lensa peristiwa terkini yang mengganggu bangsa kita," kata Brown saat pencalonannya.
"Saya berpikir tentang bagaimana pencalonan saya memberikan harapan, tetapi juga datang dengan beban berat."
"Saya tidak dapat memperbaiki rasisme selama berabad-abad di negara kami dan saya juga tidak dapat memperbaiki diskriminasi selama beberapa dekade yang mungkin berdampak pada anggota Angkatan Udara kami," jelasnya.
Brown berharap dirinya nanti bisa memulai perubahan agar militer bisa lebih menghargai nilai keanekaragaman.
(Tribunnews/Ika Nur Cahyani)