News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Sri Lanka Bangkrut

Presiden Sri Lanka Minta Vladimir Putin Bantu Impor Bahan Bakar

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Dewi Agustina
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa telah mendesak Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membantu mengimpor bahan bakar.

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, COLOMBO - Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa pada Rabu kemarin mengatakan bahwa ia telah mendesak Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membantu negara kepulauannya dalam mengimpor bahan bakar.

Hal itu karena Sri Lanka kini sedang dalam kondisi kekurangan uang dan menghadapi krisis ekonomi terburuk dalam tujuh dekade.

Baca juga: Sri Lanka Bangkrut, Diprediksi Berlanjut Hingga 2023

Dikutip dari laman NBC News, Kamis (7/7/2022), kekurangan devisa karena salah urus ekonomi dan dampak pandemi virus corona (Covid-19), telah membuat Sri Lanka berjuang untuk mengimpor banyaka komoditas, bahkan kebutuhan pokok.

Ini menyebabkan mereka akhirnya kekurangan obat-obatan, makanan dan bahan bakar yang parah.

"Melakukan teleconference yang sangat produktif dengan Presiden #Rusia, Vladimir Putin," cuit Presiden Gotabaya Rajapaksa dalam akun Twitternya.

Setelah gagal memerangi inflasi yang melanda 22 juta warga negaranya, Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe mengumumkan Sri Lanka saat ini tengah mengadapi kebangkrutan akut yang akan berlangsung hingga 2023 mendatang.

"Inilah kebenarannya, Inilah kenyataannya. Kami juga harus menghadapi kesulitan pada 2023," jelas Wickremesinghe pada para anggota parlemennya, Selasa (5/7/2022).

Pengumuman ini disampaikan Wickremesinghe setelah Sri Lanka dalam beberapa bulan terakhir terus mengalami krisis ekonomi, imbas dari habisnya cadangan devisa serta membengkaknya utang luar negeri.

Hingga membuat laju inflasi di Sri Lanka meledak di angka 54,6 persen pada bulan Juni, kondisi inilah yang membuat pemerintah pusat kesulitan untuk mengimpor barang-barang vital seperti kebutuhan pangan, bahan bakar, serta obat-obatan.

Baca juga: Sri Lanka Bangkrut, 8 Negara Ini Terancam Ikut Bangkrut, Ada Turki-Laos, Bagaimana dengan Indonesia?

Bahkan untuk menghemat persediaan BBM, Wickremesinghe mewajibkan para pegawai negeri dan anak sekolah di negaranya untuk melakukan aktivitas dari rumah atau work from home dengan maksud untuk mengirit stok bahan bakar minyak di negaranya.

Sejumlah cara telah diupayakan Wickremesinghe untuk memerangi laju inflasi yang ada di negaranya, salah satunya dengan mengajukan pembicaraan bailout dengan Dana Moneter Internasional (IMF).

Meski hingga saat ini Sri Lanka belum mendapat kepastian dari IMF, namun rencananya dana tersebut akan digunakan untuk merestrukturisasi utangnya dengan para kreditur di bulan Agustus mendatang.

"Kami sekarang berpartisipasi dalam negosiasi sebagai negara yang bangkrut. Oleh karena itu, kita harus menghadapi situasi yang lebih sulit dan rumit dari negosiasi sebelumnya." ujar Wickremesinghe.

Sebagai informasi mengutip dari Channel News Asia, utang luar negeri Sri Lanka per akhir 2021 yaitu sebesar 50,72 miliar dolar AS. Jumlah ini sudah termasuk produk domestik bruto (PDB), utang 12 miliar dolar AS yang harus dibayarkan pada Agustus mendatang, serta pembayaran 21 miliar dolar pada akhir 2025.

Imbas dari pembengkakan utang ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan bahwa sekitar 80 persen masyarakat Sri Lanka di tahun ini berpotensi mengalami kekurangan pangan. (Fitri Wulandari, Namira Yunia Lestanti)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini