TRIBUNNEWS.COM - Perang Iran dan Israel memasuki hari ke-97 pada Kamis (4/6/2026) di tengah mandeknya upaya diplomasi dan meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan pembicaraan dengan Amerika Serikat (AS) belum menghasilkan kemajuan berarti meski jalur komunikasi antara kedua negara masih terbuka.
Al Jazeera melaporkan Teheran juga menegaskan bahwa tekanan militer maupun sanksi tambahan tidak akan memaksa Iran mengubah kebijakannya.
Iran Sebut Negosiasi Belum Bergerak
Dalam pernyataannya, Araghchi mengakui kontak diplomatik dengan Washington masih berlangsung.
Namun, menurutnya belum ada terobosan yang dapat mengarah pada kesepakatan baru.
Di saat bersamaan, Iran membela serangan yang dilancarkannya terhadap sejumlah sekutu AS di kawasan Teluk.
Teheran menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk pertahanan diri setelah fasilitas strategis mereka diserang.
Baca juga: Trump Kena Teguran Langka dari DPR AS Buntut Perang Iran Telan Biaya 29 Miliar Dolar AS
"Saluran komunikasi tetap terbuka, tetapi belum ada kemajuan nyata dalam pembicaraan," kata Araghchi.
Serangan Iran ke Kuwait Tewaskan Satu Orang
Kuwait menjadi salah satu negara yang terdampak langsung dari eskalasi terbaru konflik.
Pemerintah Kuwait menyatakan serangan rudal dan drone Iran pada Rabu (3/6/2026) menghantam terminal bandara internasional negara itu.
Sedikitnya satu orang dilaporkan tewas dan lebih dari 60 orang lainnya mengalami luka-luka.
Otoritas setempat juga melaporkan kerusakan material dalam skala besar akibat serangan tersebut.
Israel dan Lebanon Sepakat Gencatan Senjata
Di tengah situasi yang memanas, Amerika Serikat mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon telah menyepakati implementasi gencatan senjata baru.
Kesepakatan itu dicapai setelah serangkaian perundingan yang berlangsung di Washington.
Baca tanpa iklan