News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Mengapa polisi Rusia menggerebek pesta seks?

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Mengapa polisi Rusia menggerebek pesta seks?

Otoritas Rusia mengincar pesta seks menyusul keputusan Mahkamah Agung pada November 2023 yang menyebut gerakan LGBTQ sebagai “ideologi ekstremis”.

Setidaknya ada enam operasi penggerebekan polisi terhadap pesta bertema seks, baik yang digelar untuk publik maupun privat, terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Meski begitu, beberapa pesta itu sebenarnya tidak berhubungan dengan komunitas LGBTQ.

Februari lalu, kepolisian Rusia menggerebek sebuah klub malam di kota Yekaterinburg, 1.500 kilometer sebelah timur Moskow. Klub itu mengadakan pesta bertema seks bertajuk “Blue Velvet”.

Para peserta pesta itu mengenakan balaclava untuk menyembunyikan identitas mereka.

Setidaknya 50 polisi ikut serta dalam penggerebekan itu dan beberapa di antaranya diyakini merupakan anggota pasukan keamanan khusus FSB, kata penyelenggara pesta kepada BBC Rusia.

Polisi memaksa semua orang membuka topeng. Polisi juga meminta informasi pribadi mereka, kata salah satu penyelenggara pesta, Stanislav Slovikovsky.

“Mereka bertanya kepada saya apakah ada kelompok gay dan lesbian di pesta itu, apakah ada propaganda LGBT. Mereka juga menanyakan apakah ada orang yang memakai narkoba, meski hal itu tampaknya kurang menarik perhatian mereka,” kata Slovikovsky.

Selama lebih dari satu dekade, pihak berwenang Rusia telah berusaha melarang homoseksualitas.

Rusia juga mencabut hak-hak anggota komunitas LGBTQ melalui serangkaian undang-undang yang mengidentifikasi gerakan LGBTQ sebagai ideologi ekstrem.

Pada tahun 2013, majelis rendah parlemen mengesahkan undang-undang yang melarang apa yang mereka sebut sebagai “propaganda LGBT”. Regulasi ini secara efektif membatasi perdebatan publik mengenai hak-hak LGBTQ dan isu-isu terkait.

Pada tahun 2023, undang-undang anti-LGBTQ yang lebih ketat diberlakukan.

Juli 2023, parlemen melarang transisi transgender, yang sebenarnya diperbolehkan sejak tahun 1997. Parlemen juga melarang prosedur bedah yang menegaskan perubahan gender, terapi hormonal, dan perubahan gender dalam dokumen resmi.

November 2023, Mahkamah Agung Rusia menyebut gerakan LGBTQ sebagai “ideologi ekstremis”.

LGBTQ ditambahkan ke daftar kelompok ekstremis, setara dengan ISIS dan Saksi-Saksi Yehuwa.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini