News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Riset: Vape Berpotensi Tingkatkan Risiko Kanker Paru-paru

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Riset: Vape Berpotensi Tingkatkan Risiko Kanker Paru-paru

Seorang yang berhenti merokok dan beralih menghisap rokok elektrik alias vape berpeluang lebih besar terkena kanker paru-paru, menurut sebuah penelitian di Korea Selatan.

"Penelitian ini adalah riset terhadap populasi besar pertama yang menunjukkan peningkatan risiko kanker paru-paru pada pengguna rokok elektrik setelah berhenti merokok,” kata Kim Yeon Wook, yang memimpin penelitian di Rumah Sakit Bundang di Universitas Nasional Seoul.

Lonjakan risiko kanker

Para peneliti mengamati sebanyak 4.329.288 responden di Korea Selatan, yang memiliki riwayat menghisap rokok konvensional.

Mereka menemukan, sebanyak 53.354 orang menderita kanker paru-paru dan 6.351 orang meninggal dunia karena kanker paru-paru.

Mantan perokok yang beralih menggunakan rokok elektrik memiliki risiko lebih besar terkena kanker paru-paru dan mengalami kematian akibat kanker, dibandingkan mantan perokok yang menghindari rokok elektrik.

"Hasil riset itu menunjukkan, ketika kita mempertimbangkan keputusan berhenti merokok dalam konteks mengurangi risiko kanker paru-paru, potensi bahaya penggunaan rokok elektrik sebagai alternatif merokok juga harus dipertimbangkan,” kata Kim.

Apakah vape lebih aman ketimbang rokok?

Rokok elektrik bekerja dengan memanaskan cairan nikotin menjadi uap yang dihirup pengguna.

Namun, cairan vape juga mengandung bahan kimia lain yang berpotensi membahayakan, meskipun kadarnya lebih rendah dibandingkan rokok tembakau.

Bahan kimia berbahaya yang ditemukan dalam produk rokok elektrik, antara lain akrolein, formaldehida, diacetyl dan partikel ultrahalus yang dapat masuk ke dalam paru-paru. Vape juga dapat mengandung logam berat seperti timbal, kata Ashley Merianos, seorang profesor di University of Cincinnati di AS.

Banyak pakar profesional dan organisasi layanan kesehatan percaya bahwa rokok elektrik jauh lebih aman daripada merokok tembakau. Vaping juga direkomendasikan sebagai alat untuk membantu berhenti merokok.

Para ahli mengatakan, rokok elektrik memang cenderung lebih aman untuk jangka pendek dan menengah. Namun, kecil kemungkinan bahwa pengguna vape akan bebas risiko kanker dalam jangka panjang.

Merianos mengatakan, masih banyak hal yang belum diketahui mengenai rokok elektrik, terutama mengenai dampak jangka panjang terhadap kesehatan manusia.

"Bukti terbaru menunjukkan, vaping berpotensi menyebabkan masalah paru-paru, termasuk asma. Selain itu, penelitian terbatas yang kami miliki menunjukkan, paparan aerosol secara langsung berhubungan dengan gejala dan penyakit pernapasan,” kata Merianos kepada DW.

Menurutnya, paparan aerosol dari pengguna vape kepada orang di sekitarnya juga berpotensi berbahaya.

Vape sebabkan kanker?

Meski berkonsentrasi sangat rendah, berbagai bahan kimia yang diketahui menyebabkan kanker ikut terkandung di dalam cairan rokok elektrik. Pengguna berat bisa menghirup senyawa berbahaya itu beberapa kali dalam sehari, setiap hari dan selama bertahun-tahun.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini