Seiring pertumbuhan ekonomi, permintaan energi India pun hanya akan meningkat.
Guna mendorong industri biogas, pemerintah memerintahkan pemasok gas untuk mencampur gas alam dengan 1% biometana mulai dari 2025. Angka ini diharapkan naik menjadi 5% pada tahun 2028.
Selain mengurangi impor gas India, biogas juga dapat mengurangi polusi udara karena jerami yang sebelumnya dibakar bisa dikirim ke bioreaktor.
Selain itu, bahan yang tersisa setelah bioreaktor bekerja dapat digunakan sebagai pupuk.
India sedang membangun bioreaktor-bioreaktur yang lebih besar dengan dukungan pemerintah negara bagian dan federal.
Gas yang dihasilkan fasilitas komersial tersebut dikompresi supaya lebih gampang diangkut atau digunakan sebagai bahan bakar kendaraan.
Instalasi Compressed Biogas (CBG) terbesar di Asia saat ini ada di Lehragaga, negara bagian Punjab, India utara.
Instalasi ini buka pada akhir tahun 2022 dan bisa mengubah 300 ton jerami padi menjadi 33 ton biogas setiap harinya.
Sekarang, instalasi hanya memproduksi delapan ton per hari karena permintaan bahan bakar biogas belum cukup.
Salah satu alasan permintaan biogas belum maksimal adalah lokasi instalasi yang jauh dari kota besar dan jalan utama.
Di Ludhiana, Punjab, kotoran sapi justru menjadi momok. Kota ini adalah pusat produksi susu dengan sekitar 6.000 sapi memenuhi daerah sekitarnya. Akan tetapi, pemilik peternakan susu malah membuang limbah langsung ke saluran pembuangan umum dan menyebabkan polusi sungai.
Kalau saja kotoran sapi tidak dialihkan ke reaktor biogas besar di Kompleks Susu Haibowal bisa jadi situasinya bakal lebih buruk. Reaktor yang dibangun tahun 2004 ini dapat memproses 225 ton kotoran sapi per hari.
Namun, permintaan yang sedemikian tinggi memunculkan rencana untuk meiningkatkan output fasilitas biogas lebih dari dua kali lipat.
Rajiv Kumar mengemban tanggung jawab untuk mengumpulkan kotoran sapi dari daerah sekitarnya. Dia ingat masa-masa awal saat para petani tidak betul-betul paham mengapa dia menginginkan kotoran tersebut.
Baca tanpa iklan