News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Konflik Rusia Vs Ukraina

Zelensky Sudah Ancang-ancang Bila Trump Terpilih Lagi, Akui Hubungan AS-Ukraina Bakal Susah Terjalin

Penulis: Bobby W
Editor: Wahyu Gilang Putranto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Elektabilitas sosok Donald Trump yang terus meningkat serta penunjukkan JD Vance yang anti-Ukraina sebagai Cawapresnya ikut menjadi sorotan bagi Volodymyr Zelensky

TRIBUNNEWS.COM - Elektabilitas Donald Trump yang terus menguat dalam perlombaan pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) pada tahun 2024 ini ternyata ikut menjadi pantauan bagi sosok Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky.

Dalam wawancara terbarunya bersama BBC di London, Zelensky bahkan mengaku sudah menyiapkan sejumlah skenario bila Trump yang sebelumnya menjadi Presiden AS di periode 2016-2020 terpilih kembali.

Kewaspadaan Zelensky ini pun kian meningkat setelah Donald Trump pada beberapa hari yang lalu mengumumkan Senator Partai Republik untuk Ohio, JD Vance sebagai cawapresnya dalam pemilihan November mendatang.

Vance sendiri dikenal sebagai salah satu senator di pemerintahan AS yang paling vokal menentang bantuan untuk Ukraina.

Bahkan pria berusia 39 tahun itu sebelumnya secara blak-blakan pernah mengatakan dia tidak peduli sama sekali dengan apa yang terjadi pada Ukraina.

Penunjukkan JD Vance ini pun memunculkan kembali kekhawatiran bahwa komitmen AS terhadap Ukraina bisa mengendur jika Trump kembali memimpin Gedung Putih.

"Mungkin dia (JD Vance) benar-benar tidak memahami apa yang terjadi di Ukraina, jadi kita harus bekerja dengan Amerika Serikat," kata Zelensky kepada BBC pada Kamis (29/7/2024).

Zelensky juga menyinggung sosok Donald Trump dalam wawancaranya kala itu.

Presiden Ukraina tersebut mengakui menjalin kerja sama dengan Donald Trump agar AS tetap membantu negaranya adalah hal yang susah dan membutuhkan kerja keras.

Namun begitu, Zelensky optimis ia bakal dapat meyakinkan Trump untuk terus memberikan bantuan kepada negaranya apabila ia kembali terpilih menjadi Presiden.

“Menjalin kerja sama dengannya (Trump) memang membutuhkan upaya kerja keras, tapi negara kami adalah begara yang penuh dengan pekerja keras”. pungkasnya.

Baca juga: Rusia Sambut Baik Penunjukkan JD Vance, Usulan Cawapres Trump untuk Ukraina Didukung Kremlin

Zelensky sendiri saat ini tengah berada di Inggris untuk menghadiri pertemuan Komunitas Politik Eropa (EPC)

Dalam acara tersebut, Zelensky memberikan pidato di EPC pada Kamis (18/7/2024) sore kepada 27 anggota Uni Eropa serta 20 non-anggota seperti Inggris dalam forum kerja sama tersebut.

Zelensky sebelumnya juga telah bertemu dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, yang berjanji untuk terus mendukung Ukraina dan berkomitmen untuk menghabiskan £3 miliar atau stara Rp 62 Trilyun bantuan bagi negara tersebut.

Presiden Ukraina tersebut juga mengatakan bahwa dia berharap masa jabatan Mr. Starmer di Downing Street akan menandai "era khusus" dalam kebijakan luar negeri Inggris.

"Saya tidak berpikir posisi Britania akan berubah," kata Zelensky kepada BBC.

"Saya ingin agar Perdana Menteri Starmer menjadi sosok yang spesial bagi negara kami karena ia berkomitmen untuk terus berbicara tentang politik internasional, tentang membela keamanan dunia, dan tentang perang di Ukraina." sambungnya.


(Tribunnews.com/Bobby)
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda

Berita Populer

Berita Terkini