Menyusul langkah AS, Ketua Komite Militer NATO Laksamana Rob Bauer telah lebih dulu memberikan izin kepada Ukraina, menggunakan senjata jarak jauh guna menyerang Rusia.
Dalam keterangan resminya, Bauer menyatakan Ukraina punya hak legal dan militer yang kuat untuk menyerang wilayah Rusia.
"Setiap negara yang diserang punya hak untuk membela diri. Hak itu tidak berhenti di perbatasan negara sendiri," kata Bauer dalam penutupan pertemuan tahunan komite tersebut, Sabtu (14/9/2024).
Dukungan ini dilontarkan setelah banyak negara Eropa sangat mendukung Ukraina menggunakan senjata jarak jauh guna menyerang Rusia.
Ini lantaran sebagian dari mereka khawatir akan menjadi korban berikutnya dari Rusia yang semakin kuat.
Putin Ancam Luluh Lantakkan Kyiv
Merespons dukungan yang diberikan AS dan negara anggota NATO, Presiden Putin memperingatkan bahwa pihaknya tak segan melakukan eskalasi perang yang tidak terkendali dan mengancam akan menghancurkan Kyiv.
Ancaman ini disampaikan di saat para pemimpin barat membahas apakah mereka akan mengizinkan Ukraina untuk menggunakan senjata yang mereka kirimkan untuk menyerang jauh ke wilayah Rusia.
Baca juga: Zelensky: Negara Barat Takut Bantu Ukraina Lawan Rusia, padahal Mereka Bisa Lindungi Israel
Menurutnya, keterlibatan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa dalam konflik atas Ukraina bersifat langsung, dan setiap langkah baru meningkatkan tingkat keterlibatan ini.
Alasan tersebut yang mendorong Rusia untuk mengatakan Moskow akan dipaksa untuk menggunakan senjata yang lebih kuat dan merusak terhadap Ukraina jika Kyiv mulai menembakkan rudal jarak jauh ke Rusia.
"Washington dan negara-negara Eropa lainnya menjadi pihak dalam perang di Ukraina," kata Vyacheslav Volodin, ketua Duma Negara, Majelis Rendah Parlemen Rusia di Telegram.
“Seperti halnya pengiriman senjata AS sebelumnya ke rezim Kyiv, semuanya akan dihancurkan. Namun, bahaya dan risikonya semakin meningkat," imbuhnya.
(Tribunnews.com/ Namira Yunia)