News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Berita Viral

Viral Guru di Korsel Akhiri Hidup setelah Diteror Wali Murid, Keluarga Rilis Chat Terakhir

Penulis: Whiesa Daniswara
Editor: Garudea Prabawati
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

GURU AKHIRI HIDUP - Para pelayat terus mengunjungi tempat pembakaran dupa yang didirikan di depan Kantor Pendidikan Provinsi Jeju di Yeondong, Kota Jeju, Korea Selatan untuk guru yang meninggal di sebuah sekolah menengah di Jeju pada Kamis (22/5/2025) lalu. Keluarga almarhum merilis percakapan terakhir Guru A dengan seorang murid sebelum sang guru ditemukan tewas mengkhiri hidup.

TRIBUNNEWS.COM - Seorang guru di Jeju, Korea Selatan ditemukan tewas di sebuah sekolah menengah, Kamis (22/5/2025).

Guru berusia 40 tahun yang mengajar di Sekolah Menengah Jeju itu tewas setelah mendapatkan teror dari salah satu wali murid.

Keluarga Guru A (bukan nama asli) mengungkapkan isi pesan terakhir kepada salah satu murid bernama B (bukan nama asli).

Diketahui, keluarga murid B lah yang meneror Guru A hingga 10 kali setiap hari.

Dikutip dari Naver, menurut keluarga Guru A, almarhum selalu memberikan pesan hangat kepada murid B setiap harinya.

"Kamu harus berterima kasih kepada kakak perempuanmu. Jangan lupa bahwa kakak perempuanmu selalu berada di sisimu dan dengarkan apa yang dia katakan. Selain itu, sebagai wali kelasmu, aku harap kamu belajar keras di sekolah," tulis Guru A kepada murid B.

Dalam percakapan yang dirilis keluarga almarhum, murid B juga terlihat menanggapi pesan Guru A dengan hangat.

"Guru, saya bermain voli dengan teman-teman saya kemarin dan jari-jari serta pergelangan kaki saya terluka. Apakah saya boleh tidak masuk sekolah satu hari saja?" tanya murid B.

"Pergi ke rumah sakit dan kemudian datang ke sekolah," jawab Guru A.

Guru A, yang menjadi wali kelas B tahun ini dan kini duduk di kelas tiga SMP, dikabarkan sudah beberapa kali mencoba membujuk sang murid agar datang ke sekolah.

Padahal murid B tidak masuk sekolah karena berbagai alasan, seperti perawatan di rumah sakit.

Baca juga: Hanwha Luncurkan L-SAM-II, Radar Generasi Terbaru yang Dijuluki THAAD Korea Selatan atau K-THAAD

Untuk memproses ketidakhadiran B yang tidak sah sebagai "izin sakit", ia mengirim pesan kepada B dan memintanya untuk membawa dokumen pendukung seperti surat keterangan dokter.

Namun, keluarga Guru A mengaku kakak perempuan murid B membuat beberapa panggilan protes ke telepon seluler pribadi almarhum.

Menurut keterangan keluarga Guru A, kakak perempuan B sempat protes dengan mengatakan, “Anak itu tidak mau sekolah gara-gara Pak A” dan “Kamu yang memaki B?”.

Dilaporkan bahwa seruan protes semacam ini terus berlanjut sejak awal Maret hingga tanggal 18 Mei 2025.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini