TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Minggu lalu menandai tiga tahun sejak kebocoran data kepolisian Xinjiang.
Kebocoran membeberkan cache dokumen resmi pemerintah China yang mengekspos dengan detail, terkait penghancuran penahanan massal, pengawasan, dan dugaan kekerasan terhadap orang-orang Uighur.
Dikutip dari Bitter Winter, Sabtu (7/6/2025), berkas-berkas ini memperlihatkan dugaan apa yang dilakukan otoritas Tiongkok pada orang Uighur.
Dokumen tersebut memuat foto ribuan tahanan, yang termuda baru berusia sekitar 15 tahun.
Baca juga: VW Hengkang dari Xinjiang, Pabrik dan Lintasan Uji Dijual
Sementara itu, yang tertua berusia 73 tahun, wajah membeku dalam ketakutan dan kebingungan.
"Namun, terlepas dari protes yang terjadi, terlepas dari kecaman dan seruan untuk keadilan, kami telah melihat sangat sedikit tindakan konkret," kata kontributor Bitter Winter Rahima Mahmut.
Sebagai seorang Uighur, dirinya tinggal di pengasingan selama lebih dari dua dekade.
Rahima mengaku belum berbicara dengan keluarganya selama delapan tahun.
"Rasa sakit akibat perpisahan itu tajam dan konstan. Terakhir kali saya berbicara dengan kakak tertua saya, setelah berbulan-bulan mencoba menghubungi siapa pun di keluarga saya, adalah pada Januari 2017,' katanya.
"Tolong jangan hubungi kami lagi. Serahkan kami di tangan Tuhan! Ini menegaskan kecurigaan saya bahwa suara saya telah menjadi ancaman bagi orang-orang yang saya cintai," kata dia.
Pada 2023, Rahima menerima berita dari seorang informan.
Bahwa kakak perempuan tertua dia, seorang pensiunan kepala sekolah yang mengabdikan hidupnya untuk pendidikan anak-anak meninggal pada bulan Maret 2023.
Menurutnya, saudara laki-lakinya dibawa ke kamp untuk 'pendidikan ulang'.
Saudaranya dibebaskan, namun Rahima tak lagi mendengar kabar apapun dari saudaranya itu.
Dirinya menyebut ribuan orang Uighur di diaspora hidup dalam ketidaktahuan serupa seperti dirinya.
Baca tanpa iklan