Namun, Jenderal Dan Caine, komandan tertinggi AS, mengatakan peluncuran rudal balistik Iran telah turun 86% sejak hari pertama pertempuran, Sabtu 28 Februari. Komando Pusat AS (Centcom) melaporkan penurunan lebih lanjut sebesar 23% pada Selasa, 4 Maret.
Meski demikian, Dr. Hellyer menilai Iran masih memiliki kapasitas serangan yang signifikan untuk menargetkan "infrastruktur Israel, pangkalan regional AS, dan sekutu Teluk, sekaligus mengancam arus energi global melalui Selat Hormuz."
"Bahkan gangguan terbatas di Selat itu bisa berdampak ekonomi global yang parah," ujarnya.
Sekitar 20% minyak dunia melewati selat sempit tersebut—yang kini secara efektif ditutup oleh Iran disertai ancaman akan menyerang kapal mana pun yang mencoba melintas.
Meski Iran mungkin menghadapi kekurangan rudal canggih dan propelan padat, Nicole Grajewski menekankan bahwa kapasitas drone negara itu tetap signifikan.
Diperkirakan Iran telah memproduksi puluhan ribu drone serang satu arah Shahed sebelum perang. Desainnya bahkan diekspor ke Rusia, dan beberapa aspek teknologinya ditiru oleh Amerika Serikat.
Drone ini bukan hanya berfungsi untuk menimbulkan kerusakan langsung, tetapi juga memiliki tujuan strategis: "mengikis sistem pertahanan udara dari waktu ke waktu" dengan memaksa lawan menghabiskan rudal pencegat yang mahal.
"Sebagian dari strategi ini adalah menguras kemampuan pencegat," jelas Grajewski. "Iran melakukan hal ini dengan UAV dan drone. Itu juga yang dilakukan Rusia di Ukraina."
Namun, AS menyatakan peluncuran drone Iran telah turun 73% sejak hari pertama konflik.
Institut Studi Keamanan Nasional (INSS) yang berbasis di Tel Aviv melaporkan AS dan Israel telah melakukan lebih dari 2.000 serangan multi-munisi, sementara Iran meluncurkan 571 rudal dan 1.391 drone—banyak di antaranya berhasil dicegat.
Para pakar menilai mempertahankan tempo pertempuran seperti ini akan semakin sulit bagi kedua belah pihak seiring berlanjutnya perang.
Konflik berkepanjangan
Iran juga memiliki salah satu angkatan bersenjata terbesar di Timur Tengah.
Menurut perkiraan laporan International Institute for Strategic Studies (IISS) Military Balance 2025, Iran memiliki sekitar 610.000 personel aktif, termasuk:
- 350.000 prajurit angkatan darat reguler.
- 190.000 anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang menangani program rudal dan drone serta banyak operasi regional.
Iran juga mengandalkan jaringan sekutu regional—termasuk pemberontak Houthi di Yaman, kelompok bersenjata di Irak, Hizbullah di Lebanon, dan Hamas di Palestina. Akan tetapi, Poros Perlawanan tersebut telah mengalami pukulan besar dalam gelombang pertempuran di berbagai wilayah sejak serangan Hamas pada Oktober 2023 dari Gaza.
Baca tanpa iklan