Menurut Arkhipova, banyak istilah tersebut berkaitan dengan pengawasan, hukuman, dan perjuangan untuk bertahan hidup.
Sebagai contoh, istilah "rumah burung" digunakan untuk menyebut operator drone yang tidak hanya memantau musuh, tetapi juga mengawasi rekan-rekan mereka sendiri dan bahkan dapat menembaki mereka yang mencoba mundur.
Istilah "lubang" mengacu pada tempat-tempat penahanan dan penghukuman ilegal yang bersifat sementara.
Sementara itu, istilah "karantina" merujuk pada pangkalan-pangkalan tempat tentara Rusia yang kembali dari tawanan perang Ukraina diinterogasi oleh Dinas Keamanan Federal Rusia sebelum dikirim kembali ke garis depan.
"Tidak ada jalan pulang," tegas Arkhipova. Menurutnya, selama bertahun-tahun perang berlangsung, semakin sulit bagi tentara untuk kembali menjalani kehidupan sipil. Banyak tentara kini melihat luka berat, penangkapan, pembelotan, atau bahkan kematian sebagai satu-satunya "jalan keluar".
Selain itu, telah berkembang semacam pasar gelap untuk bertahan hidup di dalam militer. Menurut Arkhipova, para tentara membayar ribuan dolar untuk mendapatkan cuti, dipindahkan dari garis depan, atau menghindari penugasan ke unit-unit penyerbu.
Surat keterangan medis juga dapat dibeli, dan para komandan disuap agar seseorang diizinkan meninggalkan unitnya untuk sementara waktu.
Arkhipova terutama mencatat bahwa sikap terhadap kehidupan manusia di dalam pasukan telah berubah. Banyak responden menggambarkan garis depan sebagai tempat di mana manusia tidak lagi dipandang sebagai individu, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dikorbankan.
Dalam sistem seperti itu, komando militer membutuhkan aliran personel baru secara terus-menerus untuk menggantikan kerugian yang terjadi, jelasnya.
Keikutsertaan dalam perang kompensasinya adalah keiistimewaan
Perang juga mengubah masyarakat Rusia. Menurut jurnalis Alexei Tupitsyn, perang secara bertahap telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan bagi sebagian keluarga bahkan menjadi sumber penghasilan.
Ketika mobilisasi dimulai, Tupitsyn dan rekan-rekannya membuat ruang obrolan bagi para istri tentara yang dimobilisasi dan bagi para tentara itu sendiri.
Berdasarkan pengamatannya, pada awalnya ruang obrolan anonim tersebut dipenuhi rasa takut dan keinginan untuk memulangkan anggota keluarga mereka.
Namun seiring waktu, perang berubah menjadi sumber pendapatan yang stabil bagi banyak keluarga. "Istri para tentara yang dimobilisasi sekarang dapat dikatakan termasuk kelas menengah," kata jurnalis tersebut.
Keluarga-keluarga itu melunasi pinjaman, membeli mobil, dan membeli perabotan mahal. Tupitsyn juga menunjukkan bahwa di beberapa sekolah, anak-anak para prajurit perang diberi makanan secara terpisah dari anak-anak lainnya. Mereka menerima permen tambahan dan makanan lain sehingga memperoleh perlakuan istimewa.
Sikap menjaga jarak dalam masyarakat
Sementara negara berusaha mengagungkan para veteran yang pulang dari perang, banyak warga dalam kehidupan sehari-hari justru menjaga jarak dari mereka.
Baca tanpa iklan