Namun, Spanyol menjadi satu-satunya negara anggota NATO yang secara terbuka menolak target ini.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez hanya bersedia menaikkan anggaran pertahanan menjadi 2,1 persen dari PDB, naik tipis dari 2 persen saat ini.
2. Analis: Gencatan Senjata Gaza Terancam Gagal karena Israel Desak Hamas Serahkan Senjata
Negosiasi mengenai pelucutan senjata Hamas muncul sebagai hambatan utama dalam upaya mengakhiri perang Israel di Gaza secara permanen.
Menurut laporan Al Jazeera (10/10/2025), meski Israel dan Hamas diyakini telah menyetujui tahap awal gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat, perbedaan pandangan mendasar soal nasib persenjataan Hamas masih menjadi batu sandungan besar.
Israel menuntut Hamas menyerahkan seluruh senjatanya jika perang yang telah berlangsung dua tahun di Gaza ingin berakhir.
Selain itu, Tel Aviv juga meminta Hamas melepaskan kendali atas wilayah Gaza dan membubarkan diri sebagai organisasi.
Hamas menolak keras desakan tersebut.
Meski begitu, beberapa analis menilai kelompok itu mulai menunjukkan fleksibilitas dalam pembicaraan tertutup.
“Dalam hal pelucutan senjata, di sinilah Anda melihat perubahan terbesar dalam posisi Hamas,” kata Hugh Lovatt, pakar Israel-Palestina di Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri (ECFR), kepada Al Jazeera.
“Pejabat Hamas telah menyampaikan secara pribadi bahwa mereka mungkin terbuka terhadap proses penonaktifan senjata ofensif,” ujarnya.
Baca juga: 2 Tahun Perang Israel-Hamas Berakhir, Bisakah Gaza Pulih dan Menjadi Layak Huni Lagi?
Gencatan Senjata yang Rawan Gagal
Para pengamat memperingatkan, negosiasi mengenai senjata Hamas dapat menggagalkan gencatan senjata yang rapuh dan memicu Israel kembali melanjutkan operasi militernya di Gaza.
Secara hukum internasional, kelompok bersenjata memiliki hak untuk mempertahankan diri terhadap pendudukan.
Israel dan sekutu Baratnya kerap menuntut pelucutan senjata sebagai prasyarat proses perdamaian—seperti yang terjadi pada Perjanjian Oslo di era 1990-an.
Baca tanpa iklan