TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan tajam terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Trump menyebut mengatakan bahwa masa jabatan Maduro “sudah dihitung", meski menepis kemungkinan perang terbuka antara Washington dan Caracas.
Dalam wawancara dengan program 60 Minutes di CBS News pada Minggu (2/11/2025), Trump ditanya soal meningkatnya aktivitas militer AS di kawasan Karibia dan laporan yang menyebut adanya rencana serangan terhadap instalasi militer Venezuela.
“Saya ragu. Saya rasa tidak,” kata Trump ketika ditanya apakah AS akan berperang melawan Venezuela.
Namun, ia menambahkan, “Saya akan menjawab ya, saya rasa begitu,” saat ditanya apakah masa jabatan Maduro sudah dihitung.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya kehadiran militer AS di wilayah Komando Selatan, termasuk pengerahan kapal induk USS Gerald R. Ford dan sejumlah operasi terhadap kapal yang diduga penyelundup narkoba.
Al Jazeera melaporkan, sejak awal September, militer AS telah melancarkan lebih dari 15 serangan di Laut Karibia dan Pasifik Timur yang menewaskan sedikitnya 65 orang.
Trump menegaskan bahwa operasi tersebut merupakan bagian dari upaya memberantas perdagangan narkoba yang, menurutnya, melibatkan rezim Maduro.
Ia menuduh pemerintah Venezuela “membuang ratusan ribu orang” termasuk narapidana ke Amerika Serikat.
Akan tetapi, Trump membantah bahwa ia merencanakan invasi darat ke Venezuela.
“Saya tidak mengatakan itu benar atau tidak benar,” ujarnya, menolak mengungkapkan detail operasional.
Fox News melaporkan bahwa Gedung Putih dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga menepis klaim adanya rencana serangan besar terhadap Caracas.
Baca juga: Rusia Olok-olok AS Soal Operasi Penaklukan Venezuela Bertopeng Narkoba: Mulai Saja di Manhattan!
Sementara itu, Nicolas Maduro menuduh Washington menggunakan dalih perang melawan narkoba untuk “memaksakan perubahan rezim” di Caracas dan merebut cadangan minyak Venezuela.
“Mereka berbohong. Venezuela tidak memproduksi daun kokain,” kata Maduro, seperti dikutip Anadolu Agency.
Kepala Hak Asasi Manusia PBB, Volker Turk, juga menyoroti operasi militer AS di Karibia yang menewaskan puluhan orang.
Baca tanpa iklan