Pihak berwenang juga mendukung pembangunan dapur pusat otomatis yang mengintegrasikan pencucian, pemasakan, dan pengemasan.
Dorongan otomatisasi ini tetap harus menjaga nilai kuliner tradisional.
Pemerintah menekankan pentingnya menjaga kualitas rasa, konsistensi, dan inovasi melalui menu serta perangkat nutrisi berbasis AI.
Baca juga: Megawati Sebut Kecerdasan Buatan Harus Dibatasi Etika dan Nilai Kemanusiaan
Namun, tantangan budaya tak dapat dihindari.
Di Tiongkok, sentuhan manusia seperti wok hei—“napas wok” yang khas—dipandang sebagai jiwa masakan.
Kritik terhadap restoran yang menyajikan hidangan siap saji menjadi sinyal resistensi terhadap makanan yang dianggap kehilangan autentisitas.
“Robot pelayan mungkin menjadi atraksi menarik, tetapi robot memasak menghadapi tekanan lebih besar. Jika rasa berubah menjadi ‘rasa mesin’, adopsi restoran pintar bisa terhambat,” kata Li.
Zhao Zhijiang dari lembaga kajian Anbound menilai bahwa meluasnya dapur AI juga berpotensi mendorong makanan serba siap saji yang dapat menghilangkan identitas kuliner regional dan menurunkan pengalaman makan.
“Jika itu terjadi, konsumsi bisa menurun,” ujarnya.
Sebagai kota inovasi, Shanghai diperkirakan menjadi lokasi uji coba nasional.
Strategi ini kemungkinan menjadi model yang diadaptasi kota-kota lain, meskipun implementasinya akan sangat bergantung pada kesiapan dan kebutuhan regional.
Para analis menilai bahwa otomatisasi lebih mungkin menata ulang pasar kerja ketimbang langsung memicu gelombang PHK.
Pekerja dengan peran repetitif seperti pencuci piring, juru masak persiapan, dan sebagian juru masak lini berisiko tergantikan robot. SUMBER
Baca tanpa iklan