Sementara itu, status SSW berkembang pesat.
Hingga Juni 2025, jumlah pekerja asing SSW di sektor pengasuhan mencapai 54.916 orang, mayoritas merupakan mantan peserta magang teknis.
Per Desember 2024, terdapat pula 12.227 tenaga asing yang telah memiliki sertifikasi pekerja perawatan Jepang dan mengantongi status residensi “caregiver”, dengan masa tinggal yang dapat diperpanjang setelah lima tahun.
Di luar data resmi itu, masih banyak pekerja asing tidak tercatat secara formal, termasuk ibu rumah tangga asal Filipina atau Thailand yang menikah dengan warga Jepang serta mahasiswa internasional yang bekerja paruh waktu.
Survei: Tokyo, Kanagawa, dan Aichi Jadi Magnet Baru
Survei terhadap 192 fasilitas keperawatan menunjukkan lebih dari separuh mengalami kehilangan tenaga asing dalam lima tahun terakhir (tahun fiskal 2024).
Mayoritas dari mereka pindah ke kawasan metropolitan seperti Tokyo, Kanagawa, dan Aichi, yang menawarkan gaji serta fasilitas lebih baik.
Sebaliknya, prefektur seperti Yamagata, Ehime, Hiroshima, dan Miyazaki menjadi daerah yang paling banyak kehilangan tenaga.
Ada Contoh Keberhasilan: Model Yamanashi
Di tengah tantangan mempertahankan tenaga asing, Yamanashi Medical Care Cooperative muncul sebagai contoh sukses.
Sekitar 70 persen pekerja asing bertahan di fasilitas mereka bahkan setelah berpindah status ke SSW.
Baca juga: Gempa 7.5 Magnitudo Guncang Jepang, Bagaimana Nasib 969 WNI?
Strategi mereka antara lain: menyediakan asrama layak dengan kamar pribadi dan wifi, komunikasi dan perjanjian kerja yang jelas sebelum kedatangan,
pendidikan bahasa Jepang intensif, dukungan penuh untuk sertifikasi perawat, membangun hubungan kerja yang setara, bukan memosisikan tenaga asing sebagai “buruh sementara”.
“Saya memilih tinggal di Yamanashi. Saya sudah nyaman dan merasa dihargai,” ujar salah satu pekerja asing.
Jepang diperkirakan kekurangan ratusan ribu tenaga perawatan lansia hingga 2040. Maka, kehadiran tenaga asing menjadi bagian penting strategi jangka panjang negara tersebut.
Namun tantangan baru muncul: mobilitas tenaga kerja asing semakin tinggi, dan daerah pedesaan kesulitan mempertahankan tenaga yang sudah mereka latih.
“Masa depan sektor ini sangat bergantung pada bagaimana Jepang membangun sistem yang adil, manusiawi, dan berorientasi jangka panjang—baik bagi pekerja asing maupun lansia yang membutuhkan mereka,” tutur pengusaha lembaga keperawatan tersebut.
Diskusi keperawatan di Jepang dibuka gratis oleh Pencinta Jepang. Untuk bergabung, kirimkan nama, alamat, dan nomor WhatsApp ke email: tkyjepang@gmail.com.
Baca tanpa iklan