TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tingkat pengangguran di Pakistan melonjak tajam dan mencapai level tertinggi dalam 21 tahun terakhir.
Mengutip Pakobserver, Minggu (20/12/2025), angka pengangguran tercatat naik menjadi 7,1 persen pada tahun fiskal 2024–2025.
Berdasarkan Survei Angkatan Kerja (LFS) terbaru yang dirilis Biro Statistik Pakistan (PBS), jumlah pengangguran meningkat dari sekitar 4,5 juta orang pada 2020–2021 menjadi hampir 5,9 juta orang pada 2024–2025. Artinya, terdapat tambahan sekitar 1,4 juta pengangguran dalam empat tahun terakhir.
Dalam artikel yang ditulis akademisi Assadullah Channa, lonjakan ini mencerminkan lemahnya struktur ekonomi Pakistan serta ketidakseimbangan kebijakan yang dinilai lebih memprioritaskan pengeluaran keamanan dibandingkan pembangunan ekonomi berkelanjutan dan penciptaan lapangan kerja.
LFS mencatat bahwa angkatan kerja Pakistan tumbuh signifikan dari 71,8 juta orang pada 2020–2021 menjadi 83,1 juta orang pada 2024–2025, didorong oleh pertumbuhan demografis dan meningkatnya partisipasi tenaga kerja.
Namun, pertumbuhan ekonomi yang stagnan di bawah 3 persen dinilai tidak cukup untuk menyerap sekitar 3,5 juta pendatang baru ke pasar kerja setiap tahunnya.
Terbatasnya Lapangan Kerja
Ketidakseimbangan ini paling berdampak pada kelompok muda.
Tingkat pengangguran usia 15–24 tahun melonjak hingga 12,9 persen, mencerminkan ketidaksesuaian keterampilan serta terbatasnya lapangan kerja produktif bagi generasi muda.
Pengangguran perempuan juga relatif lebih tinggi, mencapai 10,5 persen, dibandingkan laki-laki yang berada di level 6,0 persen.
Dari sisi sektoral, survei menunjukkan penurunan lapangan kerja di sektor pertanian sebesar empat poin persentase menjadi 33,1 persen, serta kontraksi ringan di sektor manufaktur menjadi 14,4 persen.
Kedua sektor ini selama ini berperan penting dalam menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Sebaliknya, pertumbuhan lapangan kerja lebih banyak terjadi di sektor perdagangan grosir dan ritel, yang didominasi pekerjaan informal dan berproduktivitas rendah.
Lebih dari 72 persen pekerjaan non-pertanian di Pakistan masih bersifat informal, mencerminkan rapuhnya pasar tenaga kerja dengan perlindungan sosial dan stabilitas kerja yang terbatas.
Risiko Siklus Pengangguran
Tekanan ekonomi juga diperparah oleh dampak program stabilisasi Dana Moneter Internasional (IMF) serta bencana akibat perubahan iklim.
Baca tanpa iklan