TRIBUNNEWS.COM – Di sejumlah wilayah Eropa, semakin banyak pemerintah daerah, sekolah, dan lembaga yang didanai publik menghadapi reaksi keras setelah mengubah cara penyajian tradisi Natal.
Perubahan ini dilakukan dengan alasan menerapkan pendekatan Natal yang dinilai lebih “inklusif”.
Mengutip Fox News, di Belgia, kontroversi mencuat bulan ini setelah Brussel meluncurkan reinterpretasi modern adegan kelahiran Yesus di Grand Place.
Instalasi tersebut menampilkan figur tanpa wajah dan dipromosikan sebagai karya seni kontemporer yang inklusif.
Namun, instalasi itu kemudian dirusak dan menuai kritik tajam dari politisi serta warga setempat, menurut Catholic News Agency.
Reaksi juga meluas di dunia maya.
Pemain tim nasional sepak bola Belgia, Thomas Meunier, memicu perhatian luas setelah mengomentari isu tersebut di platform X.
Ia menulis, “Kita telah mencapai titik terendah, dan kita terus menggali."
Cuitan itu dibagikan ribuan kali di X.
Wali Kota Brussel, Philippe Close, anggota Partai Sosialis, membela keputusan tersebut dalam konferensi pers pada Jumat (19/12/2025).
Ia menyebut pemerintah kota berupaya menjaga keseimbangan selama musim liburan.
“Pada periode Natal ini, kita perlu mengurangi kemeriahannya,” kata Close.
Baca juga: Daftar Negara yang Tidak Merayakan Natal pada Tanggal 25 Desember
Ia menambahkan, meskipun Brussel memilih tetap mempertahankan pajangan adegan kelahiran Yesus, sejumlah kota lain justru telah menghapusnya sepenuhnya.
“Adegan kelahiran Yesus yang lama telah digunakan selama 25 tahun dan menunjukkan banyak kerusakan,” ujar Close.
“Sudah saatnya mengambil arah baru. Kami sangat senang dengan karya Victoria-Maria dan ingin memastikan sang seniman tidak diserang secara pribadi.”
Baca tanpa iklan